Dalam sesi penyuluhan yang dilakukan bersama Bank Sampah Induk (BSI), warga diberi pemahaman bahwa sampah rumah tangga seperti plastik, logam, dan kertas dapat memiliki nilai ekonomis jika dipilah dan disetor dengan benar.
Wonojati, 2 Juli 2025 — Desa Wonojati, Kabupaten Pasuruan, menggelar sosialisasi aktivasi Bank Sampah sebagai langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warganya. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Jember (Unej) yang sedang menjalankan pengabdian di Desa Wonojati turut menjadi motor penggerak penting dalam menyukseskan program ini.
Tak sekadar mengedukasi, para mahasiswa KKN Unej juga aktif memfasilitasi warga dan perangkat desa dalam perencanaan teknis, dokumentasi, hingga pelaksanaan sosialisasi aktivasi bank sampah. “Kami ingin masyarakat tidak hanya tahu tentang pentingnya memilah sampah, tapi juga langsung terlibat dan merasakan manfaatnya,” ujar salah satu mahasiswa KKN.
Dalam sesi penyuluhan yang dilakukan bersama Bank Sampah Induk (BSI), warga diberi pemahaman bahwa sampah rumah tangga seperti plastik, logam, dan kertas dapat memiliki nilai ekonomis jika dipilah dan disetor dengan benar. Contohnya, gelas plastik bekas air mineral yang telah dilepas label dan dicuci bersih bisa dihargai hingga Rp5.000/kg — dua kali lipat dari harga biasanya.
“Setiap jenis sampah punya nilai, tergantung seberapa baik kita memilah dan merawatnya,” jelas perwakilan BSI saat menyampaikan materi.
Warga juga diajarkan membedakan jenis logam seperti aluminium dan seng agar tidak tertipu saat menjual ke pengepul.
Bank sampah di Desa Wonojati akan menerapkan sistem jemput bola, di mana sampah yang telah dipilah di tingkat RT akan dijemput langsung oleh tim pengelola. Mahasiswa KKN turut berperan dalam merancang mekanisme penjemputan dan sistem pencatatan tabungan sampah berbasis rumah tangga.
Tak hanya itu, warga juga diberikan edukasi mengenai bahaya membakar sampah, praktik yang masih sering dilakukan dan dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan — seperti sesak napas, iritasi mata, bahkan risiko kanker. “Kalau kita kelola dengan benar, sampah bisa jadi berkah, bukan bencana,” tegas narasumber dari BSI.
Kepala Desa Wonojati dalam sambutannya mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk Karang Taruna dan RT/RW, untuk bersinergi dalam mendukung program bank sampah. Ia juga mengapresiasi semangat dan kontribusi mahasiswa KKN Unej dalam memfasilitasi pelaksanaan program ini sejak tahap awal.
“Dengan kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan adik-adik mahasiswa, kami optimis bank sampah ini akan berjalan dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan ekonomi desa,” ujarnya.
Inspirasi juga datang dari wilayah Pandaan, di mana pengelolaan bank sampah yang tertata rapi telah menghasilkan miliaran rupiah dan meningkatkan kesejahteraan warga. Desa Wonojati berharap dapat mengikuti jejak tersebut, dimulai dari pembentukan kepengurusan, penguatan edukasi warga, hingga konsistensi dalam penyetoran sampah dari rumah ke rumah.
Dengan aktivasi bank sampah ini, Desa Wonojati tak hanya bergerak menuju lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membuka lembaran baru menuju desa yang mandiri dan ramah lingkungan.
