Berikut artikel berjudul “Tujuh Pilar Pengasuhan untuk Anak” yang penulis simak dari kegiatan workshop pengasuhan
Penulis: Novita Ratna Andadari
Setiap orang tua pasti membutuhkan pengetahuan yang mendalam dalam mengarungi perjalanan kehidupan berkeluarga. Salah satunya adalah mengenai cara mengasuh anak yang masih minim referensi. Berikut artikel berjudul “Tujuh Pilar Pengasuhan untuk Anak” yang penulis simak dari kegiatan workshop pengasuhan. Semoga bermanfaat.

1. Kesiapan Menjadi Orang Tua
Apabila seseorang telah memantapkan diri untuk berkeluarga, maka ia juga harus siap menjadi suami atau istri. Selanjutnya, bersiap pula menjadi ayah dan ibu. Tidak sekadar menyandang status, tetapi memahami peran masing-masing, baik sebagai ayah maupun ibu, serta tanggung jawab yang menyertainya.
Fungsi yang melekat pada ayah berbeda dengan fungsi ibu. Semuanya harus disiapkan sejak awal ketika memutuskan untuk membangun keluarga. Oleh karena itu, penting untuk bersungguh-sungguh dalam menentukan kriteria pasangan hidup agar keduanya siap menjadi orang tua.
2. Ayah Harus Terlibat
Pendapat lama yang sering kita dengar adalah “ayah mencari nafkah, ibu mengasuh anak.” Padahal, dalam Al-Qur’an terdapat 14 dialog antara ayah dan anak, sementara hanya ada 3 dialog antara ibu dan anak. Maka benarlah jika negeri ini disebut sebagai “negeri tanpa ayah.”
Faktanya, ayah menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu tidak salah. Namun, ketika pulang, anak-anak tidak berinteraksi dengan ayah karena sang ayah sudah kelelahan.
Pengasuhan yang optimal terjadi ketika ayah terlibat aktif bersama ibu. Ayah menjadi sumber kekuatan pengasuhan dalam pembentukan karakter anak. Kedekatan ayah dan ibu kepada anak secara fisik dan psikologis sangat memengaruhi tumbuh kembang anak.
Anak-anak yang cerdas secara moral, spiritual, dan intelektual terbentuk melalui peran pengasuhan yang optimal dari ayah dan ibu. Keterlibatan ayah sangat penting dalam madrasah keluarga. Ayah adalah pemimpin dan penentu Garis Besar Haluan Keluarga (GBHK). Banyak anak yang mengalami masalah di luar rumah, seperti tawuran remaja, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya, disebabkan kurangnya bonding dengan ayah.
Salah satu penyebab kurangnya bonding adalah karena orang tua memiliki luka inner child; ayah bersikap diam, keras, tidak humoris, melempar tanggung jawab, atau menyalahkan ibu.
Selain sebagai penentu GBHK, idealnya ayah memiliki kewenangan menentukan tujuan keluarga sesuai ketentuan Allah: membuat kebijakan, menentukan standar keberhasilan, mendidik dan membimbing istri serta anak, melakukan pengawasan, serta mendelegasikan tanggung jawab dan otoritas. Semua kewenangan ini sebaiknya dibicarakan bersama pasangan hidupnya.
Ayah juga berhak untuk dicintai, dihargai, dihormati, dipedulikan, dan dipercaya. Inilah pilar kedua, pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
3. Tetapkan dan Sepakati Tujuan Pengasuhan
Penetapan Garis Besar Haluan Keluarga (GBHK) sebaiknya dilakukan sejak awal, dengan melibatkan ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu sebagai penguat peran ayah dalam pengasuhan anak.
Pengasuhan anak laki-laki dan perempuan tentu berbeda. Allah Swt. menciptakan otak yang berbeda pada setiap anak, begitu pula fitrah dan fungsinya dalam keluarga. Maka, tanggung jawabnya pun berbeda.
Tujuan pengasuhan harus ditanamkan dengan jelas: bahwa anak adalah hamba Allah, mukmin yang bertakwa. Pengasuhan membentuk anak sesuai peran dan tanggung jawabnya. Perempuan disiapkan untuk menjadi calon istri dan ibu, laki-laki disiapkan sebagai calon suami dan ayah, serta keduanya menjadi pengayom dan pendidik dalam keluarga.
Ayah dan ibu harus saling menguatkan dan menyepakati pola pengasuhan yang telah disusun bersama, agar anak tidak bingung dan tumbuh dengan pola yang konsisten.
4. Komunikasi yang Benar, Baik, dan Menyenangkan
Sebagai orang tua, mari kita evaluasi cara berkomunikasi dengan anak. Belajarlah komunikasi yang benar, yaitu dengan mendengar aktif, membaca bahasa tubuh anak, dan menghindari 12 gaya keliru dalam komunikasi (menurut Elly Risman), yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membanding-bandingkan, mencap, mengancam, menasihati, membohongi, menghibur, mengkritik, menyindir, dan menganalisis secara berlebihan.
5. Orang Tua yang Menanamkan Nilai Agama
Tanggung jawab orang tua adalah membentuk kebiasaan baik dan meninggalkan kenangan indah. Anak yang benar-benar paham adalah anak yang tidak terbebani atau merasa terpaksa, tetapi melakukannya dengan suka cita dan penuh kesadaran. Target utama bukan sekadar bisa, melainkan suka.
Prioritas penanaman nilai agama adalah menumbuhkan iman yang lurus, rasa takut kepada Allah, ibadah yang baik dan benar, serta akhlak yang mulia. Setelah itu, orang tua menyiapkan anak untuk memasuki masa balig dan dewasa: siap menjadi menantu, istri atau suami, serta orang tua.
6. Menyiapkan Masa Balig
Kesadaran dan kesepakatan bahwa anak adalah amanah dari Allah menjadi titik awal. Orang tua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas amanah ini. Maka, anak perlu pendampingan ketika melewati masa pubertas.
Kesepakatan antara orang tua harus meliputi perhatian, komitmen, dan kesinambungan (continuity) dalam menyiapkan masa balig anak.
Kuncinya adalah menyediakan waktu dan tenaga, serta terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Caranya, dengan membuat daftar: apa yang luput selama ini, dan apa yang perlu disiapkan sekarang. Kemudian, mempersiapkan materi sesuai usia anak, menentukan prioritas, serta membagi tugas antara ayah dan ibu.
7. Bijak Memanfaatkan Teknologi
Berikut adalah langkah-langkah bijak dalam memanfaatkan teknologi:
- Sepakati makna dan fungsi teknologi/media.
- Sadarilah bahwa anak adalah digital native.
- Pahamkan baik dan buruknya teknologi sebelum anak menggunakannya.
- Periksa kesesuaian konten dengan usia, termasuk rating dan batas usia.
- Buat aturan dan tetapkan konsekuensinya.
- Latih anak mengantisipasi hal-hal buruk.
- Lakukan kontrol ketika anak menggunakan gawai dan internet.
Musyawarahkan segala hal dengan pasangan. Pilih waktu yang tepat untuk membahas isu-isu penting secara intensif.
Nah, sahabat, semoga kita sebagai orang tua dan calon orang tua dapat mengambil pelajaran serta menerapkan tujuh pilar pengasuhan ini sebagai langkah perbaikan bagi generasi mendatang. Generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara spiritual. Aamiin.
Demikian sedikit ulasan “Tujuh Pilar Pengasuhan untuk Anak,” semoga dapat menjadi inspirasi keluarga dalam mengasuh buah hatinya.
(nra)
