Kami membawa serta 25 paket bantuan sembako yang hari ini langsung kami serahkan kepada para korban.
Oleh: Moch. Edris Effendi – Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur
Trenggalek, 24 Mei 2025 — Hari ini, kami dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Jawa Timur tiba di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek—daerah yang baru saja luluh lantak diterjang bencana tanah longsor. Kami datang membawa amanah empati dan kepedulian.
Tanah longsor itu terjadi pada hari Senin, 19 Mei 2025, sekitar pukul 15.00 WIB. Saat sebagian warga bersiap menunaikan salat asar, bumi justru retak dan bergeser. Dalam hitungan detik, material longsoran dari perbukitan meluncur secara mendadak, mengubur rumah, kandang ternak, dan—yang paling memilukan—merenggut enam jiwa warga setempat.
Butuh waktu hingga enam hari bagi tim SAR gabungan untuk menuntaskan pencarian korban. Dua jenazah ditemukan dua hari lalu, dan empat sisanya baru bisa dievakuasi hari ini. Semua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, tertimbun tanah dan batu.
Kami menyaksikan sendiri bagaimana trauma dan duka masih menggantung di udara desa ini. Beberapa rumah tinggal reruntuhan, sawah penuh lumpur, dan kambing serta sapi yang dulu menjadi sumber penghidupan, kini tinggal kenangan. Namun yang paling berat bukan kehilangan harta—melainkan kehilangan anggota keluarga.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, JSIT Jawa Timur bergerak. Kami membawa serta 25 paket bantuan sembako yang hari ini langsung kami serahkan kepada para korban. Kami tidak sendiri. Rekan-rekan dari JSIT Daerah Trenggalek turut bergabung, membawa hasil penggalangan dana sosial yang dihimpun dari para guru, siswa, dan wali murid di sekolah-sekolah Islam terpadu wilayah Trenggalek.

Bantuan ini memang tidak bisa menghapus luka. Namun kami ingin memastikan bahwa para korban tidak merasa sendiri. Bahwa ada tangan-tangan yang ingin menggenggam mereka dalam kepedihan. Bahwa kami hadir, meski hanya sebentar, untuk menyampaikan pesan sederhana: “Kami peduli”
Kepada pemerintah daerah, kami juga menitipkan harapan besar. Desa-desa yang terletak di zona rawan bencana seperti ini semestinya menjadi prioritas untuk relokasi. Kita tidak bisa menantang alam, tapi kita bisa belajar darinya. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Jika hari ini belum sempat, semoga esok bisa.
Kami mengakhiri kunjungan hari ini dengan doa dan linangan air mata. Untuk para korban yang telah berpulang, kami panjatkan doa semoga husnul khotimah. Untuk yang ditinggalkan, kami mohonkan ketabahan. Dan untuk kita semua, semoga hati kita selalu terbuka untuk menolong, sebelum sempat diminta.
