MALANG – Sebanyak 120 murid baru SDIT Insan Permata Malang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 sebagai langkah awal memasuki Tahun Ajaran 2026/2027. Berbeda dengan orientasi sekolah yang identik dengan senioritas, kegiatan ini dirancang menghadirkan suasana yang aman, menyenangkan, inklusif, dan bebas dari praktik perundungan (bullying).
Kepala SDIT Insan Permata Malang, Fitria Hidayati, S.Pd., mengatakan MPLS bukan sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi menjadi fondasi pembentukan karakter peserta didik sejak hari pertama.
“Hari pertama sekolah harus menjadi pengalaman yang membahagiakan. Ketika anak merasa aman dan diterima, mereka akan lebih mudah beradaptasi, belajar, dan membangun hubungan baik dengan guru maupun teman-temannya,” ujarnya.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SDIT Insan Permata Malang memiliki 682 peserta didik, termasuk tambahan 120 murid baru yang mulai mengikuti kegiatan pembelajaran.

Mengusung tema “Be Great, Be Kind, and Be Smart”, MPLS tahun ini mengajak peserta didik untuk tumbuh menjadi pribadi yang berprestasi, berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, serta cerdas dalam berpikir dan bertindak.
Suasana penyambutan berlangsung meriah dengan berbagai penampilan siswa, mulai dari perkusi, Tari Ratoh Jaroe, nasyid, bernyanyi bersama, hingga sambutan hangat dari kakak kelas. Beragam penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menciptakan kesan pertama yang menyenangkan bagi murid baru.
Keunikan lain tampak dari seluruh ustaz dan ustazah yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui pendekatan tersebut, sekolah mengenalkan keberagaman budaya Nusantara sekaligus menanamkan semangat persatuan dan cinta tanah air kepada peserta didik sejak dini.
Selama MPLS, murid baru juga mulai dikenalkan dengan berbagai budaya positif yang menjadi ciri khas sekolah, seperti membiasakan salam dan bersalaman, antre dengan tertib, menata sepatu pada tempatnya, mengenal seluruh area sekolah, hingga mengetahui nama-nama kelas yang menggunakan nama para nabi.
Selain itu, siswa mulai mengikuti rutinitas harian sekolah, seperti morning activity, apel pagi, pembacaan ikrar, doa sebelum belajar, praktik wudu, hingga salat Duha berjamaah. Seluruh pembiasaan tersebut disusun secara bertahap sesuai perkembangan usia anak sehingga proses adaptasi berlangsung lebih alami.
Salah satu program unggulan dalam MPLS adalah Program Ta’akhi, yaitu pendampingan murid baru oleh kakak kelas. Melalui program ini, siswa kelas IV hingga VI membantu adik-adiknya mengenal lingkungan sekolah, menunjukkan berbagai fasilitas, mendampingi aktivitas harian, sekaligus memberikan teladan dalam berperilaku.
Program tersebut dinilai efektif membangun rasa persaudaraan antarsiswa sekaligus menjadi langkah preventif untuk mencegah praktik bullying maupun senioritas di lingkungan sekolah.
Sebagai bagian dari kebijakan nasional mengenai transisi PAUD ke SD yang menyenangkan, kegiatan MPLS juga diisi berbagai permainan edukatif, seperti lempar tangkap bola, berjalan di atas titian, dan merangkak. Aktivitas tersebut tidak hanya melatih kemampuan motorik anak, tetapi juga membantu guru mengenali kesiapan belajar setiap peserta didik.
Komitmen SDIT Insan Permata Malang sebagai sekolah ramah anak juga diwujudkan melalui layanan pendidikan inklusif dengan menerima lima peserta didik berkebutuhan khusus pada tahun ajaran ini. Sekolah berupaya memberikan kesempatan belajar yang setara sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing anak.
Melalui pelaksanaan MPLS Ramah 2026, SDIT Insan Permata Malang berharap setiap murid baru dapat memulai perjalanan belajarnya dengan rasa aman, percaya diri, dan penuh semangat. Lebih dari sekadar pengenalan lingkungan sekolah, kegiatan ini menjadi pijakan awal dalam membentuk generasi berkarakter Al-Qur’an, berakhlak mulia, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat.
