SURABAYA — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menggelar kegiatan Sekolah Perempuan dan Talkshow bertema “Hambatan, Tantangan, dan Upaya untuk Mewujudkan Keadilan Gender”. Acara ini memperkuat komitmen terhadap isu keadilan gender, pemberdayaan perempuan, dan pentingnya pendidikan karakter sebagai pondasi perubahan sosial di kalangan mahasiswa.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 6 Rektorat Untag Surabaya, Sabtu (21/6), dihadiri oleh berbagai tokoh penting. Hadir di antaranya Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 (YPTA) J. Subekti, S.H., M.M., Perwakilan Yayasan CitaKita Erna Indriyani, serta Febby Rahmatullah Masruchin, S.T., M.T. dari pihak rektorat Untag Surabaya.
Membangun Kesadaran Kritis dan Ruang Aman Diskusi Gender
Ketua Pelaksana kegiatan, Aldani, menyampaikan bahwa acara ini bertujuan membangun perspektif yang adil gender di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Ia menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak, termasuk laki-laki, dalam memperjuangkan kesetaraan gender.
Presiden BEM Untag Surabaya, Angga Sudrajat, menegaskan bahwa Sekolah Perempuan akan menjadi program rutin bulanan dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang edukasi yang menyoroti kasus pelecehan dan ketidakadilan terhadap perempuan.
“Sekolah Perempuan bukan hanya forum diskusi, tetapi juga tempat tumbuhnya calon pemimpin perempuan masa depan,” ujarnya.
Dukungan Yayasan dan Harapan Lahirnya Pemimpin Perempuan
Ketua YPTA, J. Subekti, menyampaikan apresiasi terhadap upaya BEM dalam membangun kesadaran kesetaraan gender. Ia memaparkan data representasi perempuan yang masih terbatas di berbagai sektor, dari pendidikan hingga politik, dan mendorong hadirnya kader-kader perempuan pejuang melalui program seperti Sekolah Perempuan.
Senada dengan itu, Erna Indriyani dari Yayasan CitaKita menambahkan bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan masyarakat sipil sangat penting dalam melawan ketimpangan gender. Ia berharap metode dialogis dalam Sekolah Perempuan bisa menciptakan solusi bersama terhadap isu-isu seperti budaya patriarki, kekerasan seksual, dan diskriminasi struktural.
Narasumber Bahas Hambatan dan Strategi Keadilan Gender
Talkshow inti menghadirkan narasumber kompeten: Irma Danadharta, Ketua PPKS Untag Surabaya, dan Dr. Ruth Indah Rahayu, Dosen Filsafat STF Driyarkara Jakarta. Keduanya membahas hambatan struktural dan kultural dalam mewujudkan keadilan gender.
Irma menekankan pentingnya pendidikan gender masuk dalam kurikulum formal maupun informal. Dr. Ruth menambahkan bahwa perempuan harus dilihat sebagai subjek perubahan, bukan sekadar objek bantuan.
Antusiasme Peserta dan Arah Program Lanjutan
Lebih dari 150 peserta dari berbagai fakultas, komunitas perempuan, dan dosen mengikuti acara dengan antusias. Diskusi berlangsung interaktif, membahas kasus nyata dan strategi konkret untuk mengatasi ketimpangan gender di lingkungan kampus dan masyarakat luas.
Angga Sudrajat menyatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya seremoni. Ke depan, BEM Untag akan melaksanakan kelas advokasi, pelatihan paralegal, serta kampanye digital sebagai bagian dari gerakan keberlanjutan.
“Keadilan gender, pemberdayaan perempuan, dan pendidikan karakter bukan hanya wacana, tetapi langkah nyata menuju perubahan yang lebih adil dan setara bagi semua,” tutup Angga.
