Penulis: Isgianto, S.Pd – Sekretaris JSIT Daerah Magetan
Magetan – Tak ada yang bisa menebak takdir. Begitu pula yang dialami Ustadz Oni Handoko, guru SDIT Al Uswah Barat Magetan, yang nyaris meregang nyawa dalam kecelakaan tragis di palang pintu perlintasan kereta api Stasiun Magetan, 20 Mei 2025 lalu.
Kecelakaan itu melibatkan KA Malioboro Ekspres yang menewaskan empat orang dan melukai tiga lainnya. Di antara para korban, nama Ustadz Oni masuk dalam daftar yang selamat—meski dengan luka serius yang mengharuskannya menjalani operasi dan kini masih harus beristirahat penuh.
Hari ini, Kamis (5/6), suasana hangat terasa di kediaman Ustadz Oni. Bukan sekadar kunjungan biasa, tapi juga bentuk nyata dari solidaritas dan empati sesama pendidik. Badan Pengurus Harian JSIT Daerah Magetan, yang dipimpin oleh Ustadz Suryani, S.Pdi, hadir untuk menjenguk sekaligus menyerahkan dana taawun sebesar Rp 5 juta. Dana ini merupakan hasil penggalangan solidaritas dari seluruh guru Sekolah Islam Terpadu (SIT) se-Kabupaten Magetan.
“Taawun ini bentuk kepedulian dan rasa persaudaraan dari kami semua. Semoga bisa sedikit meringankan beban Ustadz Oni dan keluarga atas musibah yang dialami,” ujar Ustadz Suryani.
Tidak hanya bantuan materiil, dalam kesempatan itu, juga disampaikan doa dan harapan agar sang ustadz segera pulih dan bisa kembali menjalankan amanahnya sebagai pendidik.
“Beliau bukan sekadar guru. Tapi juga sosok yang menginspirasi dan mencintai dunia pendidikan dengan sepenuh hati,” tambahnya.
Di tengah rasa haru, Ustadz Oni menyampaikan terima kasih dan rasa syukurnya. Dengan suara pelan, ia menyebutkan betapa dukungan ini menjadi penyemangat untuk terus berjuang sembuh dan kembali mengabdi di dunia pendidikan.
Dalam diam, para guru yang hadir saling memandang. Tak perlu banyak kata, semua tahu—rasa persaudaraan ini adalah pondasi kuat yang menggerakkan pendidikan berbasis nilai dan cinta kasih.
