Penulis : Badi’ahtus Sholihah, S.Pd
GRESIK – SMPIT Al Ibrah kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang karya tulis ilmiah. Dalam ajang bergengsi NYIIA & WYIIA 2025 (National and World Youth Invention and Innovation Award) yang digelar oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) di BG Junction Surabaya, tim siswi SMPIT Al Ibrah berhasil menyabet medali emas sekaligus penghargaan IYSA Special Award.
Kompetisi yang berlangsung selama tiga hari, pada 14, 15, dan 17 Oktober 2025 itu diikuti oleh ratusan pelajar dan mahasiswa dari dalam maupun luar negeri. Setelah enam bulan proses penelitian dan persiapan, dua tim dari SMPIT Al Ibrah tampil percaya diri mempersembahkan karya inovatif mereka di hadapan juri internasional.
Tim pertama dipimpin oleh Maryam Qonita Trahkasno dengan anggota Almasah Basamah dan Khaulatunnisa Nadya Diniandi. Mereka menciptakan es krim dari keong sawah dan daun kelor sebagai alternatif sumber protein untuk anak-anak penderita stunting. Ide ini muncul dari keprihatinan terhadap tingginya angka stunting di Indonesia sekaligus keinginan memanfaatkan keong sawah (Pila ampulacea) yang melimpah di alam namun jarang digunakan.
Produk es krim inovatif ini dibuat dengan konsentrasi bubuk keong berbeda (4 gr, 5 gr, dan 6 gr) yang dicampur dengan 40 ml ekstrak daun kelor. Dari hasil uji laboratorium, komposisi terbaik adalah 6 gr bubuk keong dan 40 ml ekstrak daun kelor, menghasilkan kadar protein 3,35% — sesuai standar SNI untuk es krim.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa ikut berkompetisi dengan peserta dari berbagai negara. Tidak menyangka bisa membawa pulang medali emas dan penghargaan IYSA Special Award,” ungkap Qonita dengan penuh rasa syukur.
Sementara itu, tim kedua yang diketuai Najwa Galuh Annurii bersama Azwa Khadijah Mufti dan Hanun Adlyn Khairunnisa meneliti pemanfaatan kulit durian dan daun sirih sebagai bahan alami obat kutu rambut. Ide ini berangkat dari permasalahan nyata yang dialami para siswi di lingkungan pesantren, serta melimpahnya limbah kulit durian yang belum dimanfaatkan.

Melalui proses maserasi dan distilasi, tim berhasil mengekstrak senyawa aktif dari kulit durian yang mengandung flavonoid dan saponin — zat yang efektif menghambat pertumbuhan kutu rambut. Daun sirih ditambahkan sebagai bahan anti iritasi alami. Hasil uji spektrofotometri menunjukkan kadar flavonoid sebesar 0,4204 mg GEA/g, sedangkan keberadaan saponin ditandai dengan munculnya busa selama 10 menit setelah dicampur dengan HCl 2N.
Kepala SMPIT Al Ibrah, Moelyono, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kerja keras siswi-siswinya. “Saya sangat bangga dengan perjuangan mereka. Semoga ini menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus berkarya dan berinovasi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Badi’atus Sholihah, S.Pd., selaku pembimbing KTI, turut memberikan komentar penuh rasa syukur. “Semua ini hasil kerja keras, doa orang tua, dan dukungan para guru. Sejak awal saya yakin mereka bisa. Alhamdulillah, keyakinan itu terbayar dengan medali emas dan penghargaan internasional,” tuturnya.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa semangat riset dan inovasi bisa tumbuh sejak usia muda. SMPIT Al Ibrah terus berkomitmen menumbuhkan generasi ilmuwan muda yang berpikir kritis, kreatif, dan berjiwa sosial — membawa manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
