
Dalam paparannya, Ustadz Hanif Hafidz menegaskan bahwa pondok pesantren adalah “lapangan perjuangan, bukan lapangan penghidupan”. Artinya, pondok harus dijadikan sebagai tempat untuk berjuang dan berkontribusi, bukan sekadar mencari keuntungan materi. “Hidupilah pondok, dan jangan menggantungkan hidup kepada pondok,” tegasnya.
Ia menambahkan, pondok adalah tempat ibadah dan tholabul ilmi (mencari ilmu). “Pondok berdiri di atas dan untuk semua golongan. Ini adalah prinsip inklusivitas yang harus dijaga,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya hidup yang berarti dengan falsafah “Hidup sekali, hiduplah yang berarti. Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.”
Sementara itu, Ustadz M. Sabar menekankan pentingnya kontribusi bagi sesama. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Berjasalah, tapi jangan minta jasa,” ucapnya. Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam keseharian santri. “Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami oleh santri sehari-hari harus mengandung pendidikan,” imbuhnya.
Metode dan Jiwa Guru Lebih Penting
Dalam konteks pendidikan, Ustadz Hanif Hafidz menyampaikan bahwa metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri. “Ini adalah prinsip yang harus dipegang teguh dalam mendidik generasi penerus,” ujarnya.
Selain itu, Gontor juga mengajarkan falsafah “Pondok memberikan kail, tidak memberi ikan.” Artinya, pondok mendidik santri untuk mandiri dan kreatif, bukan sekadar memberikan bantuan instan. “Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian. Ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk amal dan ibadah,” tambahnya.
Relevansi dengan Pengembangan Unit Usaha
