MALANG- Udara laut Sendangbiru yang segar berpadu dengan semangat muda para santri MAIT Insan Kamil. Selama empat hari penuh, mereka meninggalkan bangku kelas untuk belajar langsung dari kehidupan — bukan lewat buku, tetapi dari masyarakat, alam, dan pengalaman nyata. Inilah kisah kegiatan Pramuka Penegak Laksana yang tak hanya menantang fisik, tapi juga mengasah jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial para siswa.
Kegiatan yang berlangsung pada 29 Oktober–1 November 2025 ini diikuti oleh siswa-siswi kelas XI angkatan pertama MAIT Insan Kamil. Bertempat di Desa Sendangbiru, Malang Selatan, para peserta tinggal bersama orang tua asuh, membantu pekerjaan sehari-hari, dan menjalankan pengabdian masyarakat. Selama empat hari, mereka merasakan langsung arti dari kemandirian, gotong royong, dan kerja keras.

Berbeda dari tahun sebelumnya yang ditutup di bawah air terjun Tumpak Sewu, kali ini apel penutupan diadakan di tengah perairan Pantai Waru Waru — menciptakan momen yang tak terlupakan. Dengan kaki berendam di laut dan semilir angin pantai yang lembut, para peserta mengakhiri kegiatan dengan penuh haru dan rasa bangga.
Tinggal di Rumah Warga dan Mengabdi ke Masyarakat
Begitu tiba di lokasi, para siswa langsung membaur dengan kehidupan warga. Mereka membantu membuat peyek, menyiapkan pecel, membersihkan rumah, hingga ikut turun ke laut bersama nelayan. Beberapa kelompok juga mengajar Bahasa Inggris di SDS TPU Sendangbiru, memberikan pengalaman baru bagi anak-anak setempat.

“Belajar tidak hanya di kelas, tetapi juga ketika kita turun langsung ke lapangan,” ujar Ustadz Samsul, pembina kegiatan. Ia menekankan bahwa kegiatan ini melatih ketangguhan mental dan kepekaan sosial — nilai penting yang sering kali tak ditemukan di ruang kelas.
Longmarch Menuju Tanjung Penyu
Jumat dini hari, 31 Oktober, peserta berangkat longmarch sejauh 12 kilometer menuju Pantai Tanjung Penyu. Berjalan di bawah langit gelap dengan senter di tangan, mereka melewati jalan berbatu dan menanjak. Saat fajar menyingsing, suara ombak besar menyambut mereka — hadiah alami setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Setelah beristirahat, mereka menempuh perjalanan pulang sejauh 6 kilometer ke rumah orang tua asuh, menutup hari dengan rasa puas dan lega.
Bakti Sosial dan Penutupan di Pantai Waru Waru
Selain kegiatan fisik, para siswa juga melaksanakan bakti sosial berupa pembagian sembako dan lomba edukatif untuk anak-anak desa. Puncak acara ditandai dengan apel penutupan di Pantai Waru Waru yang tenang dan berkilau. Dengan latar laut biru dan langit cerah, kegiatan berakhir penuh kesan spiritual dan kebersamaan.

“Di Pramuka Laksana, bukan hanya keterampilan yang diasah, tetapi juga persaudaraan yang tumbuh,” tulis akun Instagram Pramuka MAINKA dalam unggahannya. Kegiatan ini menjadi simbol nyata bahwa pendidikan terbaik tak selalu datang dari ruang kelas, melainkan dari keberanian untuk melangkah keluar, belajar dari kehidupan, dan memberi makna pada setiap perjalanan.
Penulis: Zaida Arif, siswa MAIT Inka

Masya Allah Taabarakallah keren dan menginspirasi dimana anak-anak muda sadar dengan kekayaan alam Negeri Indonesia dan tetap tumbuh bersama Praja Muda Karana, Salam Pramuka.