Sumenep — Tidak semua keputusan besar datang dari ruang rapat atau meja kerja. Bagi Achmad Manan Syah, titik balik hidupnya justru hadir di ruang sederhana—di tengah tangisan bayi mungil yang baru lahir. Saat itu, tahun 2019, kariernya di Surabaya sedang menanjak. Tapi kelahiran putri ketiganya membuatnya berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah saya akan terus bekerja dan melewatkan tumbuh kembang anak-anak saya?”
Pertanyaan itu mengantarnya pada keputusan besar yang tak semua orang berani ambil: mengundurkan diri dari pekerjaan dan kembali ke Sumenep untuk menjadi ayah penuh waktu.

“Melihat mereka tumbuh dari hari ke hari adalah hal yang paling berharga. Terutama ketika putri ketiga saya lahir, rasanya begitu berat harus jauh dari rumah dan melewatkan momen-momen emas yang tak akan terulang,” kenangnya. “Saya sadar, pekerjaan dan jabatan bisa dicari lagi, tapi waktu bersama anak-anak tidak akan bisa dibeli.”
Kini, Achmad Manan Syah aktif sebagai Ketua Paguyuban Kelas 6B SDIT Al Hidayah Sumenep. Sebelumnya, ia juga dikenal sebagai tokoh pendidikan yang pernah menjabat sebagai Sekretaris JSIT Wilayah Jawa Timur periode 2010–2013. Namun, di balik semua peran publiknya, Manan tetap menempatkan peran ayah di posisi tertinggi.
Keputusannya untuk meninggalkan karier demi keluarga bukan tanpa risiko. Banyak yang sempat heran dan mempertanyakan, mengapa ia rela meninggalkan posisi yang mapan. Tapi bagi Manan, kehadiran dalam tumbuh kembang anak-anaknya jauh lebih bernilai dibanding deretan prestasi profesional.
Setiap pagi kini diisi dengan kegiatan sederhana: mengantar anak ke sekolah, membantu belajar, atau sekadar mendengarkan cerita kecil mereka sebelum tidur. Rutinitas yang mungkin tampak sepele, tapi bagi Manan, itu adalah momen paling berharga.
“Anak-anak tumbuh cepat sekali. Kalau kita tidak hadir, kita hanya akan tahu mereka besar, tapi tidak tahu bagaimana mereka tumbuh,” ujarnya lirih.
Kisah Manan adalah pengingat lembut di tengah hiruk pikuk dunia kerja modern, bahwa keberhasilan sejati seorang ayah bukan diukur dari jabatan atau penghasilan, melainkan dari seberapa hadir ia di hati anak-anaknya.
Momentum Hari Ayah Nasional, yang diperingati setiap 12 November, seolah menemukan makna sejatinya lewat kisah ini. Bahwa ayah bukan sekadar pencari nafkah, tapi penjaga waktu—yang memilih hadir agar tak kehilangan detik berharga bersama buah hati.
