PONOROGO – Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Moch. Edris Effendi, S.T, M.PSDM, menyampaikan bahwa pada Kamis (16/10/2025) Bidang Kelembagaan JSIT Jawa Timur melaksanakan kunjungan dan studi tiru ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.
Kegiatan ini diikuti oleh 55 peserta yang terdiri dari pengurus JSIT Wilayah serta para pengurus yayasan Sekolah Islam Terpadu (SIT) di Jawa Timur.

Kunjungan tersebut digagas oleh Bidang Kelembagaan JSIT Jatim yang diketuai oleh Ustadz Patma, sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat kapasitas kelembagaan SIT di wilayah Jawa Timur.
Menurut Edris, studi tiru ini merupakan terobosan baru untuk mendorong pengelola SIT lebih aktif dan mandiri dalam pengembangan sekolah. “Kami ingin para ketua yayasan dan pengelola SIT belajar langsung dari Gontor, bagaimana pesantren mampu mengelola unit usaha yang menopang kebutuhan lembaga secara berkelanjutan,” ujarnya.
Belajar dari Kemandirian Gontor

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari seminar pengembangan usaha yang telah dilaksanakan oleh JSIT Jawa Timur pada Februari 2025 lalu. Dalam studi tiru kali ini, peserta diajak belajar langsung mengenai falsafah kemandirian ekonomi pesantren yang telah menjadi ciri khas Gontor.

Sesi utama diisi oleh Ustadz Muhammad Hanif Hafidz, Direktur beberapa unit usaha di Pondok Modern Darussalam Gontor. Beliau memaparkan konsep dasar dan filosofi pengembangan unit usaha di lingkungan pesantren, yang berpijak pada prinsip kemandirian, keikhlasan, dan keberlanjutan.
Setelah sesi diskusi, para peserta melakukan kunjungan langsung ke berbagai unit usaha milik pondok, seperti percetakan, konveksi, minimarket, serta beberapa bidang ekonomi lainnya.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 14.30 WIB ini memberikan kesan mendalam bagi peserta. Mereka mendapatkan inspirasi tentang bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat berdikari secara finansial tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual dan pendidikan.
“JSIT Jawa Timur berharap kegiatan semacam ini menjadi pemantik agar yayasan SIT di daerah semakin kreatif, mandiri, dan mampu menumbuhkan ekosistem ekonomi syariah yang sehat,” tutup Edris Effendi.
