Ponorogo — Di tengah gempuran zaman yang serba instan, Pondok Modern Darussalam Gontor berdiri tegak sebagai simbol kemandirian dan keteguhan nilai. Didirikan sejak 20 September 1926 oleh Trimurti—KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi—pondok ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu agama, melainkan juga laboratorium kehidupan yang menyiapkan santri untuk menjadi pemimpin, pendidik, sekaligus penggerak ekonomi umat.
Di Gontor, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Santri belajar langsung tentang manajemen, pemasaran, hingga keuangan lewat pengelolaan unit usaha pondok. Dari koperasi, percetakan, pertanian, hingga toko ritel—semuanya dikelola secara mandiri oleh guru dan santri. “Pondok adalah lapangan perjuangan, bukan lapangan penghidupan,” begitu falsafah yang diwariskan para pendirinya.
Nilai-nilai itu tumbuh melalui Panca Jiwa Gontor: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Setiap aktivitas, dari mencetak buku hingga melayani pelanggan di toko santri, mengandung pendidikan karakter: disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan kejujuran.

Unit usaha bukan hanya sumber pendanaan, tetapi juga sarana pendidikan yang menumbuhkan semangat wirausaha islami. Seluruh hasil usaha digunakan untuk menunjang operasional pondok dan membantu santri yang kurang mampu. “Kami mengajarkan santri bagaimana mencari berkah, bukan sekadar keuntungan,” demikian pesan moral yang selalu ditekankan para guru pembimbing.
Dengan sistem pengawasan ketat dan laporan keuangan rutin, Gontor membangun manajemen profesional tanpa meninggalkan nilai syariah. Para santri terlibat langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi usaha—belajar menjadi pemimpin di tengah realitas dunia nyata.
Kini, Gontor telah berkembang dengan berbagai cabang di seluruh Indonesia. Melalui Universitas Darussalam (UNIDA), pondok ini memperluas misinya melahirkan ulama intelektual yang mampu memadukan ilmu dan iman. Prinsipnya jelas: ilmu bukan untuk ilmu, tetapi untuk amal dan ibadah.
