SURABAYA – Menjelang akhir tahun 2025, Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur menggelar Refleksi Pendidikan di Dyandra Convention Center Surabaya, Rabu (10/12). Forum ini menjadi ruang evaluasi dan penyusunan strategi menghadapi tantangan pendidikan tahun 2026, sekaligus menegaskan komitmen Jawa Timur dalam membangun generasi unggul dan berdaya saing.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, menyampaikan bahwa refleksi ini penting untuk melihat kembali capaian sekaligus melakukan koreksi bersama. “Ini momen penting bagi kita untuk mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki, sekaligus merumuskan langkah strategis ke depan,” ujar Aries.
Aries memaparkan sejumlah kemajuan pendidikan di Jawa Timur, salah satunya angka partisipasi kasar (APK) yang mencapai 103 persen. Kendati demikian, angka partisipasi murni (APM) masih berada di angka 79 persen. Ia juga menekankan bahwa forum ini bukan sekadar ajang refleksi, tetapi bagaimana solusi dirumuskan secara gotong royong oleh seluruh pemangku kepentingan.
Sejumlah persoalan pendidikan turut menjadi sorotan, mulai dari masih rendahnya partisipasi sekolah di jenjang SMA/SMK, kondisi ruang kelas yang memprihatinkan, kompetensi guru dan tenaga kependidikan yang belum optimal, hingga angka putus sekolah yang masih tinggi. Keterserapan lulusan SMK, kasus siswa kurang gizi, serta belum meratanya digitalisasi pendidikan akibat keterbatasan sumber daya juga menjadi perhatian utama.
Salah satu tokoh pendidikan yang hadir adalah Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Moch. Edris Effendi, ST, M.PSDM. Ia tampak hadir mengenakan batik dan jas JSIT, duduk sejajar dengan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur Prof. Dr. Warsono, MS, serta Rektor UINSA Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.
Edris menyampaikan apresiasi kepada Dindik Jatim karena diberikan kesempatan memaparkan best practice JSIT sebagai organisasi yang menaungi 437 sekolah Islam terpadu di Jawa Timur. Dalam forum tersebut, ia menyoroti pentingnya sinergi pendidikan sekolah dan keluarga.
Menurutnya, pendidikan yang kuat tidak hanya tercipta dari kelas yang baik, tetapi juga dari rumah yang menumbuhkan budaya belajar dan dukungan moral. Ia menawarkan empat solusi strategis. Pertama, penguatan karakter sebagai fokus utama pendidikan, bukan hanya capaian nilai rapor. Kedua, membangun budaya belajar baik di sekolah maupun di rumah. Ketiga, meningkatkan peran orang tua dalam pendampingan belajar anak. Keempat, menumbuhkan motivasi belajar bagi pelajar pasca lulus agar siap menghadapi masa depan.
Edris berharap gagasan tersebut dapat menjadi bagian dari rencana besar perbaikan pendidikan Jatim pada 2026 agar ekosistem pendidikan semakin solid, kolaboratif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
