Surabaya – PPQ SMPIT Permata Surabaya sukses menggelar kegiatan Camp dan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) pada hari Rabu-Kamis, tanggal 19 – 20 November 2025 di Pondok Pak Guru, Claket, Jawa Timur. Kegiatan ini mengusung tema “Membangun Kepekaan : Kamu Lihat, Kamu Tahu, Kamu Beraksi” dan bertujuan untuk menumbuhkan kepekaan dan kepedulian antar sesama sekaligus melatih keberanian menyampaikan kebenaran dengan santun, mengembangkan kerja sama dan pemecahan masalah yang bijak, serta mempererat ukhuwah Islamiyah untuk membentuk jiwa kepemimpinan Islami yang berakhlak mulia dan siap menjadi teladan.
Sebanyak 62 siswa kelas 7 & 8 mengikuti kegiatan ini dengan antusias sejak keberangkatan dari sekolah pada Selasa pagi pukul 07.00 WIB. Suasana penuh semangat terlihat ketika para siswa memasuki kendaraan bis sambil membawa perlengkapan kemah dan peralatan aktivitas luar ruangan.
Sesampainya di lokasi, kegiatan dipisah antara murid – murid perempuan dan laki – laki. Dimulai dengan upacara pembukaan murid – murid perempuan yang dipimpin Kepala Sekolah, Ustadzah Indra Maya, S.Pd dan upacara pembukaan murid – murid laki – laki yang dipimpin oleh Kepala Pengasuhan Putra Ustadz Wachid Haseem, Lc. Upacara dibuka dengan penyematan simbolik berupa sapu tangan sebagai identitas kelompok. Dalam sambutannya, Ustadzah Indra dan Ustadz Wachid menegaskan bahwa Camp dan LDKS bukan sekadar kegiatan luar sekolah, melainkan ruang penting untuk mengasah karakter empati, keberanian moral, kerja sama, dan kepemimpinan Islami agar siswa tumbuh menjadi pribadi berakhlak mulia yang peduli dan siap menjadi teladan.
“Kami berharap kalian tidak hanya menjadi anak-anak yang sholih, tetapi juga menjadi anak-anak yang muslih, bukan sekadar sholih untuk diri sendiri, tetapi mampu mengajak dan menuntun teman-temannya pada kebaikan, serta tumbuh menjadi pribadi yang peka, disiplin, peduli, dan berakhlak mulia.” ujarnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan Materi PBB dan Kepemimpinan Islami oleh Ustadz Kukuh untuk menanamkan kedisiplinan serta kekompakan sebagai dasar kepemimpinan. “Pemimpin itu tidak boleh punya sifat 3M: malas, semena-mena, atau membosankan. Ingat pitutur Jawa juga, Ing ngarso sung tulodho, di depan kita memberi teladan; Ing madya mangun karso, di tengah kita membangun semangat; dan Tut wuri handayani, dari belakang kita memberi dorongan.”
Dari Menjaga Amanah Hingga Menjaga Teman: Jejak Pembentukan Karakter Remaja
Setelah istirahat, siswa mengikuti agenda utama yaitu Jelajah Sore, sebuah misi tim yang menuntut ketelitian, empati, dan koordinasi. Setiap kelompok memulai perjalanan dari titik start menuju finish sambil membawa tiga benda simbolis: gelas berisi air berwarna sebagai amanah yang harus dijaga, plastik besar berisi air minum sebagai sumber daya bersama yang harus cukup hingga akhir, dan sebuah surat sebagai pesan penting yang tidak boleh rusak atau hilang. Sepanjang perjalanan, siswa diuji untuk menjaga agar air tidak tumpah, surat tetap aman, dan menjalankan misi tanpa merusak amanah yang diberikan.
Dalam jelajah tersebut terdapat tiga pos utama. Pos 1 “Satu Berhasil, Semuanya Juga” menghadirkan tantangan “Jaring-Jaring” dan “Blind Situation Patrol”, di mana hanya satu anggota kelompok yang dapat melihat, sedangkan anggota lainnya menutup mata. Tantangan ini melatih kemampuan komunikasi, kepekaan membaca situasi, serta tanggung jawab seorang pemimpin dalam mengarahkan kelompok.
Pos 2 “Rapid Kindness Intervention” menguji inisiatif dan keberanian siswa dalam mengambil tindakan spontan. Kelompok berjalan melalui area yang berisi berbagai situasi sosial, seperti sampah, uang terjatuh, dan benda-benda lain, tanpa instruksi dari panitia. Siswa ditantang untuk menunjukkan kepedulian dan aksi nyata secara mandiri.
Di Pos 3 “Guardian Run, Lari Tapi Jaga Teman”, siswa harus melewati jalur rintangan alam sambil menjaga dua anggota yang ditetapkan sebagai “Guardian Target”. Pos ini menekankan makna bahwa kecepatan dan kemenangan tidak berarti jika harus mengorbankan teman; keberhasilan sejati dicapai ketika seluruh anggota maju dan selamat bersama.
Seluruh rangkaian jelajah bertujuan menumbuhkan kerja sama, saling percaya, dan semangat kebersamaan, sekaligus mengajarkan bahwa kepemimpinan yang kuat dibangun dari tanggung jawab, kesabaran, dan kebersamaan.
Selam Rasa : Menyelami Emosi, Menguatkan Ikatan
Setelah kegiatan luar ruangan, peserta melakukan bersih diri dan melaksanakan rangkaian ibadah Al Ma’tsurat, salat Maghrib dan Isya’ berjamaah, serta kultum. Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Selam Rasa, sebuah kegiatan Emotional & Spiritual Quotient (ESQ) yang dirancang untuk membantu mereka mengenali perasaan, memahami diri, serta membangun kepekaan terhadap hubungan dengan teman, guru, dan orang tua. Sesi ini berlangsung dalam suasana tenang dan penuh kehangatan, dipandu oleh fasilitator yang mengajak siswa melakukan refleksi emosional melalui renungan, cerita inspiratif, dan dialog terbimbing.
Salah satu momen paling menyentuh dalam kegiatan ini adalah pemutaran video kenangan. Melalui rangkaian foto kebersamaan bersama teman, momen-momen belajar dengan guru, serta potret hangat bersama orang tua, para peserta diajak untuk mengingat kembali perjalanan mereka selama ini. Banyak siswa yang tampak terharu karena video tersebut membuka kesadaran tentang betapa berharganya hubungan yang mereka miliki dan dukungan orang-orang di sekitar mereka. Secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi ruang yang aman bagi siswa untuk mengenal hati mereka, memperkuat ikatan persaudaraan, sekaligus menumbuhkan kedewasaan emosional dan spiritual yang penting dalam pembentukan karakter remaja.
Dari Tadabur ke Aksi : Menutup Perjalanan dengan Makna
Pada hari terakhir Camp & LDKS, kegiatan dimulai dengan bangun pagi dan salat Subuh berjamaah, yang menjadi momen penyegaran ruhani sebelum peserta melanjutkan agenda utama. Setelah itu, siswa mengikuti Tadabur Qur’an dengan tema Persiapan Jihad, yang mengajak mereka merenungi makna bersih diri, menjaga makanan dan minuman, serta pentingnya melaksanakan salat sunnah dan fardu. Sesi tadabur juga menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan alam sekitar, sehingga siswa dapat mengambil pelajaran dari kebesaran ciptaan Allah.
Hasil tadabur kemudian diwujudkan dalam kegiatan Outbound Pagi, di mana setiap kelompok diberi tantangan untuk melakukan aksi nyata sesuai nilai yang baru mereka renungkan. Tantangan ini dirancang untuk menumbuhkan keberanian, kepedulian, dan kemampuan mengambil keputusan yang berakar pada pemahaman spiritual.
Setelah outbound, siswa mengikuti Forum Grup Diskusi yang membahas pengalaman, pelajaran, dan refleksi selama kegiatan berlangsung. Forum ini menjadi ruang bagi mereka untuk menyampaikan pandangan, memperkuat pemahaman, dan menyatukan komitmen sebagai bagian dari komunitas belajar.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Upacara Penutupan yang dipimpin oleh Ustadz Wachid, pemberian penghargaan kepada kelompok dan peserta dengan performa terbaik, serta momen penting yaitu pengukuhan Ketua OSIP baru sebagai simbol regenerasi kepemimpinan di lingkungan sekolah. Pengukuhan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi terbentuknya pemimpin muda yang amanah, sigap, dan berkarakter Islami.
Seluruh kegiatan hari terakhir ini menegaskan bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui teori, tetapi melalui ibadah, pemaknaan diri, aksi nyata, dan komitmen untuk terus berbuat baik bagi lingkungan sekitar.
Penulis: Anggraini Putri Mahardita, S.Pd
