Magetan – Siapa sangka, tumpukan sampah bisa berubah menjadi karya seni yang memukau dan sarat pesan moral? Itulah yang berhasil diwujudkan oleh para siswa SMPIT Al Uswah Magetan lewat pentas “Wayang Sampah” bertajuk Mala Artaka, yang berarti “sampah yang bermakna”. Pertunjukan ini menjadi puncak perayaan Bulan Bahasa dan Sastra Nasional 2025, yang digelar meriah pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Dengan tema besar “Menjaga Bumi Lewat Bahasa, Menjaga Alam Lewat Kata”, sekolah ini berusaha menyatukan dua hal yang tampak berbeda—sastra dan lingkungan—menjadi satu pesan kuat: bahwa kata-kata bisa menyelamatkan bumi. Para siswa menampilkan tokoh-tokoh wayang yang seluruhnya dibuat dari limbah anorganik. Potongan botol plastik, kardus, hingga sendok bekas disulap menjadi figur-figur yang hidup dalam narasi dramatik penuh nilai filosofi.

Pementasan Mala Artaka bukan sekadar hiburan, melainkan panggilan untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Melalui bahasa dan seni, para siswa menunjukkan bahwa kreativitas bisa menjadi solusi nyata atas masalah sampah dan pencemaran. Penonton diajak menyelami kisah yang menggambarkan perjuangan menjaga bumi, sekaligus merenungkan peran manusia sebagai penjaga alam, bukan perusaknya.
Kepala SMPIT Al Uswah Magetan, Ustadzah Ismiyatun, S.Pd, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas terselenggaranya acara ini.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang berpikir kritis, berkarya, dan menjaga alam. Kami berharap semangat ini menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mencintai bumi dan budayanya,” ujarnya dengan penuh semangat.

Dalam ucapan resmi, pihak sekolah juga berterima kasih kepada seluruh tamu undangan, mitra, serta sahabat literasi yang telah mendukung penuh kegiatan ini. “Melalui karya Mala Artaka, kami belajar bahwa seni, budaya, dan sastra dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan cinta pada lingkungan,” tulis keluarga besar SMPIT Al Uswah Magetan.
Acara ditutup dengan tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin. Di balik panggung yang sederhana, terselip pesan besar: bahwa kepedulian terhadap alam bisa dimulai dari ruang kelas, dari tangan-tangan kecil yang berani berkreasi demi bumi yang lebih bersih dan bermakna.
Penulis: Rizki Rahman
