PONOROGO — Suara tawa dan semangat para santri menggema di kawasan Bumi Perkemahan Desa Wates, Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Selama tiga hari, 13–15 Oktober 2025, ratusan santri Pondok Pesantren Darut Taqwa mengikuti kegiatan Perkemahan Santri Darut Taqwa 2025—sebuah ajang pembelajaran di alam terbuka yang sarat nilai kebersamaan, disiplin, dan kemandirian.
Kegiatan tahunan ini diikuti oleh seluruh santri kelas 7 hingga kelas 11, dengan tema besar “Menumbuhkan Jiwa Pemimpin, Tangguh, dan Mandiri di Tengah Tantangan Zaman.” Sejak hari pertama, para peserta larut dalam berbagai kegiatan edukatif dan inspiratif yang dikemas dengan gaya kepramukaan islami.
Dari pihak Polsek Jenangan, para santri mendapat materi bertajuk “Generasi Muda sebagai Pelopor Tertib Lingkungan.” Di sesi ini, mereka belajar pentingnya menjaga ketertiban dan kelestarian alam sekitar. Sementara dari Koramil Jenangan, para prajurit memberikan pelatihan “Kepemimpinan dan Kedisiplinan ala Tentara.” Santri diajak memahami arti tanggung jawab dan solidaritas, sekaligus melatih mental baja dalam menghadapi situasi sulit.
Tak kalah seru, sesi Survival Training menjadi salah satu kegiatan paling ditunggu. Para santri belajar mengenali jejak alam, mengolah bahan makanan sederhana di hutan, dan bekerja sama dalam kelompok untuk bertahan hidup. Selain itu, kegiatan Kreativitas Santri juga digelar untuk memacu inovasi dan ide-ide baru, diikuti Outbound Games yang memupuk semangat kekompakan dalam suasana penuh tawa.
Puncak kegiatan berlangsung pada malam terakhir. Api unggun menyala tinggi, menandai simbol semangat dan persaudaraan para santri Darut Taqwa. Dalam suasana khidmat, mereka bersama-sama melantunkan shalawat dan doa, disusul penjelajahan malam yang menantang sekaligus memperkuat mental dan spiritual peserta.

“Lewat kegiatan ini, kami ingin membentuk santri yang bukan hanya kuat dalam ilmu agama, tapi juga punya karakter pemimpin dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar salah satu panitia pembina.
Perkemahan Santri Darut Taqwa 2025 bukan sekadar kegiatan rekreasi, melainkan ruang pembentukan karakter. Di sinilah nilai-nilai ukhuwah, tanggung jawab, dan kemandirian tumbuh secara alami—dari tenda, hutan, hingga bara api unggun yang menyala di bawah langit malam Ponorogo.
