Bangkalan – Suasana di SDIT Ulil Albab pada Selasa (28/10/2025) terasa berbeda dari biasanya. Tawa dan rasa ingin tahu memenuhi ruang kelas saat dua tamu istimewa, mahasiswa asing dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), hadir di hadapan para siswa. Mereka adalah Joni Kumar asal Pakistan dan Muhammad Mansur dari Nigeria. Hari itu, siswa-siswi SDIT Ulil Albab belajar sesuatu yang tak biasa: tentang perbedaan, persahabatan lintas budaya, dan makna sejati dari toleransi.

Program bertajuk Kelas Toleransi ini menjadi bagian dari pembelajaran karakter dan wawasan global di sekolah tersebut. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa dunia tidak hanya seluas halaman sekolah, melainkan juga seluas keberagaman manusia di berbagai belahan bumi. Tujuan utamanya sederhana namun mendalam — menanamkan sikap saling menghormati di tengah perbedaan budaya dan keyakinan.
Dalam sesi pertama, Joni Kumar memperkenalkan tradisi dan budaya khas Pakistan. Ia bercerita tentang pakaian nasional shalwar kameez, kuliner legendaris biryani, hingga kebiasaan masyarakat Pakistan merayakan hari-hari besar. Sementara itu, Muhammad Mansur mengajak siswa menjelajahi Nigeria lewat kisah tarian tradisional, warna-warni busana khas, serta budaya kekeluargaan yang kuat di negaranya. Setiap cerita membuat mata para siswa berbinar — kagum sekaligus penasaran dengan dunia luar yang selama ini hanya mereka kenal lewat buku.
Menariknya, di akhir sesi, suasana menjadi semakin meriah saat kedua mahasiswa mengajak anak-anak belajar berhitung dalam bahasa masing-masing. Terdengar lantang suara siswa mencoba melafalkan angka Urdu seperti “yek, do, teen” dan angka Yoruba dari Nigeria seperti “ọkan, méjì, mẹ́ta”. Gelak tawa pun pecah di seluruh ruangan, menciptakan momen hangat penuh keceriaan.
Kepala SDIT Ulil Albab Afzal Farid Al Fahmi menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini penting untuk menumbuhkan empati dan rasa hormat terhadap keberagaman sejak dini. “Kami ingin anak-anak belajar bahwa perbedaan bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipahami dan dirayakan. Dunia yang damai lahir dari hati yang terbuka,” ujarnya.

Kegiatan Kelas Toleransi ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh siswa. Mereka bukan hanya belajar tentang budaya Pakistan dan Nigeria, tetapi juga belajar menjadi manusia yang terbuka, santun, dan berempati. SDIT Ulil Albab berencana menjadikan program ini sebagai agenda rutin, agar nilai-nilai persaudaraan lintas bangsa terus tumbuh di hati para pelajar muda.
