SIDOARJO — Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Wilayah Jawa Timur menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) pada Sabtu hingga Minggu (8–9/2/2026) di Gedung Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Sidoarjo. Kegiatan ini menjadi momentum penting konsolidasi pengurus wilayah dan daerah JSIT se-Jawa Timur.
Mukerwil diikuti 275 peserta, terdiri atas 55 pengurus wilayah dan 220 pengurus daerah. Agenda utama kegiatan ini adalah menyatukan arah gerak organisasi sekaligus menyusun program kerja JSIT Wilayah dan Daerah untuk satu tahun ke depan.
Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Moch Edris Effendi, ST, M.PSDM, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Mukerwil. Ia berharap forum ini mampu melahirkan program kerja yang terukur, rapi, dan berdampak langsung bagi penguatan sekolah Islam terpadu di Jawa Timur.
“Alhamdulillah, Mukerwil ini kita harapkan menjadi ruang konsolidasi dan lahirnya program kerja selama satu tahun ke depan yang lebih sistematis dan sinergis,” ujar Edris.
Dalam kesempatan itu, Edris juga menyampaikan capaian organisasi selama Januari 2026. JSIT Jatim telah berhasil menyelenggarakan 27 Musyawarah Daerah (Musda) dan menghasilkan 28 kepengurusan JSIT Daerah periode 2026–2030.
Melalui Mukerwil ini, Edris memberikan pembekalan kepada seluruh pengurus terkait manajemen organisasi yang telah disesuaikan dengan struktur kepengurusan terbaru. Salah satu hal baru yang diperkenalkan adalah inovasi program berbasis dashboard digital.

“Program kerja kini disusun dan dikelola secara digital. Ini membuat program lebih rapi, mudah dikompilasi, serta memperkuat sinergi antara wilayah dan daerah,” jelasnya.
Tidak hanya bersifat sosialisasi, peserta Mukerwil langsung dilibatkan secara aktif. Setelah sesi arahan, seluruh peserta dibagi ke dalam lima komisi yang dipandu langsung oleh pengurus wilayah. Para pengurus daerah diminta langsung menyusun program kerja JSIT Daerah melalui dashboard yang telah disediakan.

“Pengurus daerah tidak hanya mendengarkan, tapi langsung praktik menyusun program kerja,” imbuhnya.
Selain penguatan manajerial, Edris juga menekankan pentingnya kekuatan spiritual dalam menggerakkan organisasi. Ia mengingatkan seluruh pengurus untuk senantiasa meluruskan niat, menjaga ruhiyah, dan menunjukkan kesungguhan dalam berkhidmat.
Ia mencontohkan, di tengah kesibukan menyiapkan agenda Mukerwil, para pengurus tetap menyempatkan diri melaksanakan qiyamul lail secara berjamaah. Menurutnya, keseimbangan antara spiritualitas dan profesionalisme menjadi kunci keberhasilan pengabdian di JSIT.
“Pengurus harus mampu bersikap profesional, baik saat mengabdi di sekolah maupun ketika menjalankan amanah organisasi,” pungkasnya.
