Selasa, 21 April 2026
  • Login
jsit-jatim
  • Kiprah
    • Profile
    • Program
  • Artikel
  • Profil SIT
  • Download
    • Logo Resmi
    • Foto Resmi Pengurus Pusat
No Result
View All Result
jsit-jatim
No Result
View All Result
Home Kolom

“Jiwa Guru” Itulah Kunci Kemajuan Pendidikan

“at-thariqatu ahammu minal māddah, wal-ustādzu ahammu minal tharīqah, wa-ruhul ustadz ahammu minal ustādz.”

by admin
2024/03/29 | 07:21
in Kolom
Reading Time: 3 mins read
0
DR. H. Adian Husaini

DR. H. Adian Husaini

0
SHARES
40
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Oleh: Dr. H. Adian Husaini

Related Posts

Guru Kunci Peradaban

Buku Antologi “Goresan Pena Guru Hebat Mutiara Ummat” Terbit, Wujudkan Semangat Menulis Guru

Pesan sang Guru Besar

Kompetisi untuk Mengasah Skill Pendidik Al Uswah Surabaya

Syahdan, suatu saat di sebuah rumah makan di Kota Surabaya, seorang tokoh pendidikan, berkisah tentang ‘guru’. “Dulu, di awal tahun 1960-an, lulus SMP saya mendaftar Sekolah Guru Atas (SGA). Rapor saya dilihat, dan saya ditolak. Lalu, saya mendaftar ke SMA terbaik di Surabaya. Rapor saya dilihat, dan saya diterima,” kata pria 70 tahun yang kemudian menjadi dosen di ITS.

Ayah saya seorang guru Sekolah Dasar, di sebuah desa Kabupaten Bojonegoro. Disamping tugas rutin mengajar, ia berlangganan majalah Panji Masyarakat pimpinan Buya Hamka. Saat duduk di bangku SD dan SMP (1971-1981), saya berkesempatan membaca berbagai berita dan tulisan-tulisan menarik di majalah yang dilanggan ayah saya itu.

Paman saya, seorang pedagang pasar, pun secara rutin membaca setiap edisi Panji Masyarakat yang datang. Dari paman saya itu, setiap habis maghrib, saya mengaji sejumlah kitab kuning, seperti Sullamut Tawfiq, Bidayatul Hidayah, al-Arba’in an-Nawawiyah, dan lain-lain. Kadang di surau, kadang di rumahnya.

Setiap hari, usai shalat subuh, ia berangkat ke pasar, menjajakan kain dagangannya. Sore, setiba di rumah, ia menelaah kitab, persiapan untuk mengajar. Berapa pun murid yang datang, ia mengajar dengan semangat. Sampai wafatnya, 1984 – saat saya kuliah tahun pertama di IPB — itulah kegiatan rutin sang pedagang, yang juga kyai kampung itu.

Suatu ketika, seperti diceritakan dalam biografinya, KH Imam Zarkasyi bertanya kepada seorang santrinya yang sudah lulus, “Kamu sudah ngajar?” Si santri menjawab, “Belum, Pak Kyai!” Dan inilah komentar Kyai Imam Zarkasyi pada si santri, “Mati kamu!”

Tidak mengajarkan ilmu yang sudah diberikan oleh guru, dianggap laksana mati; tiada arti hidup tanpa mengajar; tanpa mengamalkan ilmu yang sudah diraihnya. Kata Imam al-Ghazali, dalam Kitab Ayyuhal Walad, “al-‘Ilmu bilā ‘amalin junūnun wal-‘amalu bilā ‘ilmin lam yakun.” (Ilmu tanpa amal itu gila. Dan amal tanpa ilmu, itu tidak bernilai).

****

Bertahun-tahun sebelum kemerdekaan RI, 1945, tokoh pendidikan Indonesia Mohammad Natsir sudah mengingatkan umat Islam akan ‘nasehat’ Snouck Hurgronje, dalam bukunya Nederland en de Islam: ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Pendidikan! Itu kata kuncinya. Jatuh bangun dan masa depan umat Islam serta bangsa Indonesia ditentukan oleh kualitas pendidikan. Kondisi umat saat ini adalah buah dari proses pendidikan. Kondisi sosial kita, tak ayal lagi, merupakan refleksi dari lembaga pendidikan.

Jika umat Islam kalah di berbagai bidang dan lini kehidupan, lihatlah kondisi pendidikannya. Lihatlah keluarganya. Lihatlah masjidnya. Lihatlah sekolahnya. Lihatlah kondisi kampusnya. Apakah konsep ilmu dan pendidikan Islam benar-benar diterapkan? Apakah pendidikan dipandang sebagai sebuah perjuangan atau peluang bisnis? Apakah murid dipandang sebagai penuntut ilmu atau sebagai pelanggan? Apakah guru diletakkan sebagai ‘pendidik’ (muaddib) atau ‘tukang ngajar’ bayaran?

Para santri biasanya hafal mahfudzat ini: “at-thariqatu ahammu minal māddah, wal-ustādzu ahammu minal tharīqah, wa-ruhul ustadz ahammu minal ustādz.” (Metode lebih penting daripada materi ajar; guru lebih penting daripada metode; dan jiwa guru lebih penting daripada guru).

Jadi, “jiwa guru” itulah kunci kemajuan pendidikan, dan sekaligus kemajuan bangsa. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bersih dari penyakit syirik, munafik, riya’, cinta dunia, gila jabatan, sombong, dengki, lemah semangat, penakut, dan sebagainya.

Berapa pun anggaran pendidikan dikucurkan, jika jiwa guru tidak dibangun, maka jangan pernah mimpi kita akan menjadi bangsa hebat dan beradab! Wallahu A’lam.

(Kolom di Majalah Suara Hidayatullah edisi Maret 2017)

admin

RekomendasiBerita

Ketua JSIT

Penghujung Masa Bakti, JSIT Jatim Tak Mau Setengah Hati

by Moch. Edris Effendi
24 Mei 2025
0
100

Komitmen JSIT Jawa Timur terus memberikan layanan terbaik hingga akhir kepengurusan Penulis: Moch Edris Effendi, ST, M.PSDM (Ketua JSIT Indonesia...

Read more

Akhirnya Jebol Juga! Garuda Tumbangkan Tembok China,

23 Juni 2025
14

Wajib Disimpan! Template Berita Sekolah untuk Agenda Raker, Ini Bikin Humas Makin Produktif

2 Juli 2025
29

Buku Antologi “Goresan Pena Guru Hebat Mutiara Ummat” Terbit, Wujudkan Semangat Menulis Guru

24 November 2025
38

Kompetisi untuk Mengasah Skill Pendidik Al Uswah Surabaya

8 November 2025
53
Next Post

Edukasi Palestina, JSIT Jawa Timur Menggelar Kajian Spesial Ramadan bersama Ustad Muhammad Husein

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

headline

180 Peserta Ikuti Bimtek Akreditasi 2026, JSIT Jatim Siapkan Sekolah Lebih Matang

by kontributor jsit
5 April 2026
0
92

SURABAYA— JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Sukses Akreditasi 2026 pada Jumat (3/4/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan...

Read more

JSIT Gresik-Lamongan Optimistis Lamongan Bisa Berdiri Mandiri

Mukerda JSIT Mojokerto Raya, Bersinergi untuk Pendidikan Indonesia

Mukerda JSIT Bondowoso-Situbondo Optimistis Bangun Pendidikan Berkualitas

Audiensi JSIT Probolinggo dan Disdikbud, Bahas Peningkatan Mutu Pendidikan

PAUD Lebah Tulungagung Ikuti Gebyar PAUD 2026, Angkat Tema “Kreatifitas Alam Kecilku”

JSIT Daerah Ngawi Sukses Gelar Mukerda 2026, Fokuskan Kolaborasi dan Penambahan SIT baru

Load More

Popular Posts

Terbaru! Cara Mendapatkan NRG Setelah Lulus PPG dan Jadwal Penerbitannya

by Anjaya Wibawana
2 Juni 2025
1
12.3k

Inilah Kumpulan Falsafah Pendidikan Gontor yang Menginspirasi Pimpinan SIT se-Jatim

by Anjaya Wibawana
8 Februari 2025
0
8.4k

Tanpa Andalkan SPP, Gontor Sejahterakan Guru Lewat Unit Usaha

by admin
8 Februari 2025
0
4.8k

Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia Wilayah Jawa Timur, Pusat penggerak dan pemberdayaan Sekolah Islam Terpadu di Indonesia menuju sekolah efektif dan bermutu

Facebook Youtube Instagram

© 2025 JSIT  Indonesia Wilayah Jawa Timur

  • Dewan Redaksi | Ketentuan Web | Kebijakan Umum
No Result
View All Result
  • Artikel Anggota
  • Berita
  • Cari Anggota
  • Download
  • Grup Anggota Default
  • JSIT Jawa Timur – Meningkatkan Mutu Pendidikan Lewat Berita
  • Keislaman
  • Kiprah
  • Kirim Artikel Baru
  • Login
  • Lupa Kata Sandi
  • Pendaftaran
  • Privacy Policy
  • Profil Saya
  • Profile
  • Program
  • Semua Grup
  • Syarat dan Ketentuan Web
  • Anggota

© 2023 jsit-jatim.com | - Media Digital JSIT Membangun Branding & Menebarkan Inspirasi by jsit-jatim.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In