Ada situasi ketika para pemimpin pendidikan berkumpul bukan untuk membahas administrasi atau strategi kelembagaan, melainkan untuk kembali menyelami sumber kekuatan terdalam mereka: Al-Qur’an. Suasana itulah yang tercipta dalam gelaran Mukhoyyam Al-Qur’an ke-3 JSIT Jawa Timur—sebuah agenda yang bukan hanya mengasah kemampuan tilawah, tetapi juga membangun ruhiyah kepemimpinan yang kokoh dan penuh makna.
Di antara udara sejuk Tretes dan suasana tenang pegunungan, para peserta yang datang dari berbagai daerah menghabiskan tiga hari penuh bersama ayat-ayat Allah. Momen ini menjadi ruang hening yang mendalam—jauh dari hiruk pikuk rutinitas sekolah—untuk memperbaiki diri, menyegarkan hati, dan menguatkan komitmen sebagai pemimpin sekolah Islam terpadu.
JSIT Jatim kembali menggelar Mukhoyyam Al-Qur’an ke-3 pada 13–15 November 2025 di Hotel Inna Tretes, Pasuruan. Mengusung tema “Kepemimpinan Qur’ani; Meneguhkan Ruhiyah, Menyucikan Jiwa, Mengokohkan Visi,” kegiatan ini diikuti 72 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka hadir dengan satu tujuan: meneguhkan kembali hubungan dengan Al-Qur’an sebagai pondasi kepemimpinan.
Kehadiran Gurunda KH. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc., Al-Hafidz dari Jakarta menjadi magnet utama kegiatan tahun ini. Beliau bukan hanya membimbing teknis tilawah dan tahfidz, tetapi juga memberikan motivasi ruhiyah yang membuat suasana mukhoyyam semakin khusyuk dan penuh keberkahan. Setiap sesi bersama beliau menjadi pengingat bahwa memimpin lembaga pendidikan Islam harus berangkat dari jiwa yang bersih dan terhubung dengan Al-Qur’an.
Ketua JSIT Jawa Timur, Ust. Edris Efendi, ST., M.Psdm, juga mengikuti seluruh rangkaian kegiatan selama tiga hari penuh. Dalam penutupan, ia menyampaikan rasa syukur karena bisa menuntaskan seluruh agenda dengan kondisi fisik yang semakin membaik. Ia merasakan kuatnya suasana kekeluargaan di antara peserta—suatu energi positif yang menurutnya sangat berharga. Edris berharap mukhoyyam ini memberikan dua dampak besar: peningkatan kapasitas Al-Qur’an para pimpinan SIT, serta tersebarnya syiar mukhoyyam Al-Qur’an ke lebih banyak wilayah. Dengan penuh harapan, ia menambahkan, “Jika hari ini mukhoyyam Al-Qur’an dilaksanakan di hotel, maka berikutnya kita berharap dapat mengadakan Mukhoyyam Al-Qur’an di Makkah. Aamiin.”
Para peserta pun tak kalah antusias membagikan kesannya. Ketua JSIT Daerah Pasuruan, Ust. Totok, menyebut tiga hal yang paling membekas: rasa syukur dapat mengikuti mukhoyyam, pengalaman bertemu teman-teman tilawah di mana pun berada, serta dorongan kuat untuk menjaga keikhlasan dan kesabaran dalam memimpin maupun mengajar.

Ketua TP2Q JSIT Jatim, Edi Purwanto, menyampaikan capaian yang mengesankan sepanjang kegiatan. Sebanyak 83% peserta menuntaskan tilawah minimal 10 juz dalam tiga hari dua malam. Bahkan, 34% peserta berhasil mencapai lebih dari 10 juz hingga 23 juz. Untuk target tahfidz pilihan (QS. Qaf atau QS. Adz-Dzariyat), sebanyak 34% peserta berhasil mencapainya. Capaian ini menjadi bukti bahwa mukhoyyam bukan sekadar agenda rutin, melainkan program serius yang menghasilkan perkembangan nyata.

Sebagai penutup, panitia memberikan penghargaan kepada peserta terbaik dalam kategori tilawah, hafalan, dan kelompok. Momentum ini menjadi simbol bahwa setiap usaha mendekat kepada Al-Qur’an selalu membawa hasil yang indah.

Mukhoyyam Al-Qur’an ke-3 JSIT Jawa Timur bukan hanya kegiatan tahunan. Ia adalah ruang untuk meneguhkan iman, memperkuat ruhiyah, dan menata kembali visi kepemimpinan berbasis Al-Qur’an. Semoga langkah-langkah dakwah Al-Qur’an para pimpinan SIT Jatim semakin diberkahi dan menjadi cahaya bagi lembaga pendidikan yang mereka pimpin.
Penulis: Edi Purwanto
