Petualangan para siswa dimulai pada 5 Februari, dengan longmarch dari Piket Nol di Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang. Rute perjalanan membawa mereka melewati jalur Sarkawi, napak tilas Erupsi Semeru, hingga menyusuri sungai menuju Desa Sumber Urip. Perjalanan ini penuh tantangan, tetapi semangat para peserta tidak surut. Mereka terus melangkah hingga tiba di Pasar Pronojiwo, Kalibening, sebelum akhirnya mencapai Check Point 1 di Koramil Pronojiwo.

Di Koramil Pronojiwo, para siswa menjalankan bakti sosial dengan membersihkan area sekitar sebagai syarat untuk mendapatkan tanda tangan Komandan Rayon Militer (Danramil). Setelah menyelesaikan tugasnya, mereka melanjutkan perjalanan ke Check Point 2 di Polsek Pronojiwo, kembali menjalankan tugas serupa sebelum mendapat tanda tangan dari Komandan Sektor (Dansek).

Setelah menempuh perjalanan panjang, para siswa akhirnya tiba di Desa Sidomulyo, tempat mereka tinggal bersama orang tua asuh. Di sini, mereka berbaur dengan masyarakat, membersihkan rumah, masjid, hingga melaksanakan tugas memasak secara bergiliran. Siswa putri bertugas memasak, sementara siswa putra membantu membeli bahan makanan dan mencuci alat masak. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab.
Pembelajaran Hidup dari Pengalaman Nyata
Salma, salah satu peserta kegiatan ini, merasa banyak pelajaran berharga yang ia dapatkan. “Kegiatan Bantara ini mengajarkan kita dewasa, mengajarkan kita bagaimana cara berbaur dengan orang-orang yang berbeda dengan kita, dan itu hal yang harus diapresiasi,” ungkapnya. Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan hasil yang sepadan dengan apa yang diajarkan oleh kakak pembina, baik dari segi mental maupun fisik.
Selain pengabdian masyarakat, siswa juga menjalankan bakti karya dengan memberikan edukasi pramuka kepada murid-murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) setempat. Tidak hanya itu, mereka juga mengajar mengaji kepada anak-anak di Desa Sidomulyo, menanamkan nilai-nilai kepedulian dan berbagi ilmu.
Momen Sakral di Tumpak Sewu

Puncak dari seluruh rangkaian kegiatan ini terjadi pada 7 Februari 2025. Di bawah derasnya gemuruh Air Terjun Tumpak Sewu, para siswa dilantik sebagai Bantara dalam sebuah upacara singkat namun penuh khidmat. Pradana dan Pradani Ambalan secara simbolis menerima brevet tapak hitam Pramuka, sebagai tanda pencapaian dari perjalanan panjang penuh makna.
Pelantikan di alam terbuka ini menjadi simbol ketangguhan dan kedewasaan bagi para peserta. Dengan semangat juang dan pengabdian yang telah mereka tunjukkan selama tiga hari, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi siswa-siswi MAIT Insan Kamil Sidoarjo dalam menghadapi tantangan hidup di masa depan.
