TRENGGALEK – Semangat Islami dan keceriaan anak-anak mewarnai pelaksanaan Islamic Youth Festival 2 (IYF 2) JSIT Trenggalek, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan yang dipusatkan di salah satu gedung sekolah JSIT Trenggalek itu berlangsung meriah. Ratusan orang tua, guru, dan tamu undangan turut hadir memberikan dukungan.
Sebanyak 70 santri dari 10 Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK) JSIT se-Kabupaten Trenggalek ambil bagian dalam festival tersebut. Mereka mengikuti empat cabang lomba, yakni tahfidz kategori usia 4–5 tahun, tahfidz kategori usia 5–6 tahun, Pildacil, dan Senam JSIT.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Zona 4 JSIT Wilayah Jawa Timur, Ust. Rohkani, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Islamic Youth Festival menjadi wadah untuk menumbuhkan kecintaan anak usia dini terhadap Al-Qur’an, dakwah, dan budaya Islami.
“Anak-anak hari ini adalah generasi penerus peradaban Islam. Melalui lomba seperti ini, kita menanamkan nilai cinta Qur’an, keberanian berbicara di depan umum, serta jiwa sportivitas dan kesehatan melalui senam. JSIT berkomitmen mencetak generasi Qur’ani, cerdas, dan berakhlak mulia,” ujar Rohkani di hadapan peserta dan orang tua.
Ia juga mengapresiasi kekompakan KB-TK di bawah naungan JSIT Trenggalek yang telah mempersiapkan para peserta. “Saya melihat semangat luar biasa dari guru dan orang tua. Ini bukti bahwa pendidikan Islam terpadu di Trenggalek terus bertumbuh,” tambahnya.
Suasana semakin meriah saat lomba Senam JSIT berlangsung. Diiringi musik Islami yang ceria, puluhan santri tampil kompak dengan seragam olahraga khas JSIT. Gerakan energik, senyum, dan yel-yel peserta membuat suasana ruangan semakin semarak.
Salah satu juri mengapresiasi penampilan para peserta yang dinilai percaya diri dan energik.
“Anak-anak senam hari ini luar biasa. Sangat percaya diri dan energik. Semangatnya menular ke seluruh ruangan. Hanya ada satu gerakan yang sedikit kurang, tapi mereka langsung bisa menyesuaikan. Ini menunjukkan anak-anak sudah dilatih dengan baik,” ungkapnya.
Cabang Pildacil juga menarik perhatian. Dengan bahasa yang lugas dan ekspresi ceria, para peserta cilik menyampaikan materi dakwah tentang akhlak, adab, dan kisah nabi. Keberanian tampil serta artikulasi peserta menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian juri.
Sementara itu, pada cabang tahfidz, peserta usia 4–5 tahun dan 5–6 tahun berlomba melantunkan hafalan surat-surat pendek. Meski masih belia, mereka mampu tampil di hadapan juri dengan tartil dan percaya diri.
“Kualitas hafalan dan tajwid anak-anak tahun ini meningkat. Ini hasil kerja keras guru dan dukungan orang tua di rumah,” kata salah satu juri tahfidz.
Ketua Panitia Islamic Youth Festival 2 JSIT Trenggalek menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Islamic Youth Festival 2 yang diselenggarakan serentak oleh JSIT Indonesia di berbagai daerah.
“Tujuan utamanya adalah sebagai ajang silaturahmi, kompetisi sehat, dan syiar pendidikan Islam terpadu. Kami ingin anak-anak merasa bangga menjadi bagian dari JSIT,” jelasnya.
Antusiasme juga terlihat dari para orang tua yang hadir mendampingi putra-putrinya. Sorak sorai dan tepuk tangan mengiringi setiap penampilan peserta, menciptakan suasana kekeluargaan sepanjang kegiatan.
Festival ditutup dengan pengumuman pemenang dan penyerahan penghargaan oleh pengurus JSIT Trenggalek dan Zona 4 Jatim. Meski dikemas dalam bentuk perlombaan, panitia menekankan bahwa keberanian seluruh peserta untuk tampil dan memberikan yang terbaik merupakan sebuah prestasi.
Melalui Islamic Youth Festival 2 tingkat Trenggalek, JSIT berharap semangat Qur’ani, keberanian, dan kreativitas anak usia dini terus tumbuh, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Penulis: Nisa Ainur Arfi








