Makassar, Sekolah Islam Terpadu — Puncak dari rangkaian perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) VI JSIT Indonesia yang diselenggarakan di Kota Makassar pada 24–27 Juli 2025 ditandai dengan terpilihnya H. Ahmad Fikri, M.Pd., NLP sebagai Ketua Umum JSIT Indonesia periode 2025–2029.
Proses pemilihan berlangsung dalam suasana yang hangat, penuh ukhuwah dan musyawarah, mencerminkan kedewasaan organisasi yang telah berdiri sejak tahun 2003. Para peserta dari seluruh wilayah Indonesia menyambut dengan antusias hasil musyawarah tersebut, menyampaikan ucapan selamat dan doa terbaik bagi amanah baru yang diemban Ahmad Fikri.
Sosok yang dikenal tenang, pekerja keras, dan memiliki pandangan strategis ini diharapkan mampu membawa JSIT Indonesia melangkah lebih jauh dalam mengokohkan peran pendidikan Islam terpadu sebagai pilar peradaban bangsa.
Dakwah Pendidikan Adalah Jalan Juang Kita
Dalam orasi perdananya di hadapan peserta Munas, Ahmad Fikri menyampaikan pesan mendalam yang menyentuh nurani para pegiat pendidikan Islam terpadu. Ia menegaskan bahwa esensi dari momentum Munas bukanlah sekadar suksesi kepemimpinan, melainkan bentuk nyata dari pelayanan terhadap sekolah-sekolah Islam Terpadu di seluruh Indonesia.
“Esensi dari Munas ini adalah untuk memastikan bahwa kita semua hadir sebagai pelayan. Pelayan bagi sekolah-sekolah Islam Terpadu, agar mereka tetap berada di jalan dakwah,” tegas Ahmad Fikri.
Ia juga menyinggung usia JSIT Indonesia yang pada bulan ini genap 22 tahun, sebagai usia yang cukup matang untuk melakukan lompatan-lompatan strategis. Usia yang harus ditandai dengan soliditas gerakan, semangat tanpa lelah, dan nafas keikhlasan dengan Islam di dada.
“Dengan Islam di dada, mari kita bergerak bersama untuk mewujudkan Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” seru Ahmad Fikri, disambut dengan takbir dan tepuk tangan dari peserta Munas.
Modal Utama: Kesungguhan dan Ketekunan dalam Dakwah
Dalam orasinya, Ahmad Fikri juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan gerakan dakwah pendidikan bukan bergantung pada modal besar, melainkan kesungguhan yang kokoh dan konsisten. Ia mengaitkan semangat tersebut dengan pengalamannya selama memimpin Departemen Pramuka SIT selama delapan tahun.
“Apa yang kita jalankan selama ini, modalnya adalah kesungguhan. Itu yang saya pelajari dari gerakan Pramuka,” ujar Fikri.
Ia mengajak seluruh elemen JSIT Indonesia—dari pengurus pusat hingga guru di kelas—untuk bergerak bersama, bersatu dalam visi, dan tidak pernah lelah mengawal generasi yang shalih, tangguh, dan mencintai Islam melalui jalur pendidikan yang terpadu.
