Penulis: Indra Maya, S.Pd.
Sabtu pagi 23 Agustus 2025 di salah satu mall Surabaya tepatnya di BG Junction Surabaya suasana terasa berbeda. Bukan karena keriuhan para pembeli, melainkan bisik-bisik antusiasme dari guru-guru SIT Permata yang berkumpul. Hari itu, mereka tak mengenakan seragam mengajar, melainkan gamis santai berwarna hijau sage siap menyerap ilmu baru.
Pelatihan Public Speaking telah dimulai.
Tempat ini dipilih bukan tanpa alasan. Suasana mal yang nyaman, dengan pencahayaan lembut berhasil memecah ketegangan. Tak ada lagi formalitas ruang kelas, yang ada suasana nyaman di mana para guru dari unit TK, SD, dan SMP saling berbagi cerita.
Narasumber yang hadir yaitu Coach Rio Purboyo menciptakan iklim yang suportif. Materi yang disampaikan tidak hanya seputar teknik berbicara di depan umum, tetapi juga bagaimana mengolah rasa percaya diri dan ketenangan.
“Public Speaking adalah bagaimana kita bisa fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Dalam melakukan komunikasi ada piramida yang harus kita pahami yaitu Point (ide), Reason (alasan yang menguatkan), dan Example (bukti-bukti yang ingin disampaikan),” demikian disampaikan Coach Rio Purboyo.
Para guru diajak untuk mempraktikkan langsung, mulai dari mengatur intonasi, kontak mata, hingga gestur yang meyakinkan.
Ustazah Bony Megah Cahyani, salah seorang guru SD terlihat malu-malu saat mencoba mempraktikan ilmu yang didapat. Namun dengan dukungan dari rekan-rekannya, suaranya mulai lantang.

Ustazah Putri, guru SMP yang biasanya tegas di depan kelas, justru belajar bagaimana berbicara dengan lebih santai dan humoris.
Para karyawan pun tak mau ketinggalan. Ustazah Fatma sebagai bendahara SPU yang selama ini tak percaya diri untuk berbicara di depan publik mulai berani angkat bicara, menyampaikan ide-ide yang selama ini terpendam.
Pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah investasi berharga. Di tengah tantangan mendidik siswa di era digital, kemampuan public speaking menjadi krusial. Bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orang tua siswa, memimpin rapat, atau bahkan sekadar menceritakan keunggulan sekolah.
Saat sesi berakhir, wajah-wajah letih berganti dengan senyum puas. Apalagi ada doorprize yang dibawa pulang peserta. Hari itu para guru pulang dengan bekal keberanian dan semangat baru. BG Junction hari itu menjadi saksi bisu, bagaimana rasa cemas bisa diubah menjadi rasa percaya diri, dan bagaimana guru-guru hebat ini terus belajar untuk menjadi yang terbaik.
