MOJOKERTO — Sebanyak 153 siswa kelas 7 SMPIT Permata Mojokerto mengikuti kegiatan unggulan tahunan bertajuk Andai Aku Menjadi (AAM) yang berlangsung pada 29 April hingga 2 Mei 2026 di Desa Bangeran, Kecamatan Dawar Blandong, Mojokerto.
Kegiatan yang menjadi salah satu syarat kenaikan kelas ini mengusung tema “Bersinergi Membentuk Karakter Muslim yang Peduli, Mandiri, dan Bertanggung Jawab.”
Selama empat hari, para siswa tinggal bersama orang tua asuh dengan pembagian dua hingga tiga siswa di setiap rumah. Mereka berbaur langsung dengan masyarakat dan mengikuti aktivitas keseharian warga desa.
Beragam kegiatan dijalani siswa, mulai membantu panen kacang dan cabai, membersihkan rumput liar di ladang jagung, hingga mengupas bawang putih hasil panen sebelum dijual. Selain itu, siswa juga ikut menjemur kerupuk, memandikan sapi, memasak, hingga menyapu rumah.
Tak hanya belajar bekerja, para siswa juga mengikuti salat berjamaah bersama warga sekitar. Interaksi ini menjadi bagian penting dalam memperkuat nilai spiritual dan sosial selama kegiatan berlangsung.
Menariknya, selama mengikuti AAM, seluruh siswa tidak diperkenankan membawa gadget. Kebijakan tersebut bertujuan melatih kemampuan komunikasi, meningkatkan kepedulian sosial, serta membangun kedekatan emosional dengan lingkungan sekitar tanpa distraksi teknologi.
Tahun ini, AAM juga menghadirkan program baru bertajuk Philanthropy. Dalam kegiatan tersebut, siswa International Class Program (ICP) mengajar Bahasa Inggris di SDN 1 Bangeran Dawar Blandong dengan metode yang menyenangkan.
Selain itu, siswa juga menggelar bazar barang bekas berkualitas dan penjualan paket sembako murah untuk masyarakat. Kegiatan sosial ini berkolaborasi dengan Komite Sekolah, wali murid, BMT, serta Permata Care untuk menyalurkan bantuan kepada anak yatim dan dhuafa.
Menurut Chusniatul Khisoli, S.Pd., kegiatan AAM menjadi sarana nyata bagi siswa untuk mempraktikkan kepemimpinan, pembelajaran bermakna, dan kepedulian sosial sesuai visi sekolah.
“Kegiatan AAM merupakan salah satu program unggulan SMPIT Permata Mojokerto. Kami ingin siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu memimpin dirinya sendiri, beradaptasi dengan masyarakat, dan memiliki kepedulian sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsep seven habits yang selama ini dipelajari siswa diterapkan secara langsung dalam kehidupan selama kegiatan berlangsung.
“Di lokasi AAM, siswa belajar menyiapkan finansial melalui business day, hidup bersama masyarakat, hingga berbagi kepada warga yang membutuhkan. Ini adalah pembelajaran mendalam yang penuh makna dan menyenangkan,” tambahnya.
Salah satu peserta, Alya Esta Gania Ashalina dari kelas 7D, mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama tinggal di Desa Bangeran.
“Awalnya terasa tidak biasa karena kamar mandi berada di luar rumah dan ada kandang sapi di belakang rumah. Tapi saya justru menikmati suasana desa yang sejuk dan menenangkan. Saya belajar untuk lebih mudah beradaptasi dan menghargai setiap proses kehidupan,” ungkapnya.
Meski kegiatan telah usai, pengalaman hidup bersama masyarakat desa menjadi pelajaran berharga yang akan terus membekas bagi para siswa SMPIT Permata Mojokerto.
