Ponorogo – Suasana Masjid Qurrota A’yun pada Sabtu (11/10/2025) tampak berbeda dari biasanya. Ratusan orang tua dan guru memadati ruangan hingga serambi masjid untuk mengikuti Seminar Parenting bertema “Bukan Hanya Nilai, Tapi Potensi: Menggali Bakat Minat Anak”. Kegiatan ini menjadi momentum reflektif bagi para orang tua untuk meninjau kembali makna keberhasilan anak di dunia pendidikan.
Dalam dunia yang sering kali menilai kecerdasan hanya dari angka, SDIT Qurrota A’yun mengajak peserta untuk memandang anak dengan cara berbeda — bukan sekadar pencetak nilai tinggi, melainkan pribadi yang memiliki potensi unik yang perlu ditemukan dan dikembangkan.
Sebanyak 323 peserta menghadiri seminar ini, terdiri dari wali murid dan para guru. Antusiasme tinggi terlihat sejak pagi, bahkan sebagian peserta harus duduk di serambi karena kapasitas masjid tak lagi mencukupi.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ibu Karina Rizki Rahmawati, M.Psi., Psikolog dari Klinik Sakina Psikologi. Dalam paparannya, beliau menegaskan pentingnya peran orang tua dalam memahami potensi anak secara menyeluruh.
“Setiap anak unik. Nilai akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ketika anak dikenalkan potensinya, ia akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan bahagia,” ujarnya di hadapan peserta seminar.
Sebelum seminar dimulai, siswa SDIT Qurrota A’yun telah mengikuti tes bakat dan minat yang membantu memetakan gaya belajar, kecerdasan majemuk, serta rekomendasi kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai karakter mereka. Hasilnya menjadi bahan refleksi bagi para orang tua dalam mendampingi anak di rumah dan di sekolah.
Kegiatan parenting ini mendapatkan sambutan positif. Banyak orang tua mengaku memperoleh pandangan baru tentang pendidikan berbasis potensi.
“Saya jadi lebih paham bahwa tugas kita bukan memaksa anak pintar di semua bidang, tapi menemukan di mana ia bisa bersinar,” ungkap salah satu wali murid dengan mata berbinar.
Melalui seminar ini, SDIT Qurrota A’yun Ponorogo terus menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang berpihak pada anak, dengan kolaborasi erat antara sekolah dan orang tua. Sinergi ini diharapkan melahirkan generasi Qur’ani yang cerdas, bahagia, dan berkarakter.
