Suasana pagi di Surabaya, Kamis (6/11/2025), terasa berbeda bagi para siswa kelas 10 MAIT Insan Kamil Sidoarjo. Mengenakan seragam rapi dan wajah penuh semangat, mereka melangkah menuju salah satu kampus paling bergengsi di Indonesia — Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR). Bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi sebuah perjalanan edukatif yang membuka cakrawala tentang dunia kedokteran dan arti perjuangan meraih cita-cita.
Setibanya di FK UNAIR, rombongan disambut hangat oleh tim mahasiswa fakultas. Mereka diajak berkeliling kampus, melihat langsung ruang perkuliahan, laboratorium anatomi, hingga fasilitas riset yang menjadi tempat lahirnya calon dokter masa depan. Antusiasme tampak di wajah para siswa, terutama ketika bertemu dengan Kak Falah, Runner Up Duta Mahasiswa FK UNAIR, yang berbagi kisah inspiratifnya.
“Jangan pernah berhenti mengejar impianmu,” ucap Kak Falah dengan nada tegas namun hangat. Kalimat sederhana itu sontak disambut tepuk tangan dan sorakan semangat dari para peserta.

Namun, perjalanan hari itu tak berhenti di kampus. Usai sesi edukatif di UNAIR, rombongan melanjutkan agenda menuju kawasan Kota Lama Surabaya, sebuah wilayah bersejarah yang menyimpan banyak kisah masa kolonial. Setiap kelompok siswa memiliki lokasi tujuan berbeda — mulai dari Pabrik Limun Siropen, Gedung Cerutu, hingga Jembatan Merah, yang semuanya menyajikan potret klasik kota pahlawan.
Menariknya, seluruh siswa diwajibkan menggunakan transportasi umum dan tidak diperbolehkan memakai transportasi daring. Tujuannya bukan sekadar berhemat, tetapi menumbuhkan jiwa backpacker, kemandirian, serta kemampuan beradaptasi di lapangan. Mereka belajar berinteraksi dengan masyarakat, membaca peta, hingga mengelola waktu di tengah hiruk-pikuk kota.
Kawasan Kota Lama sendiri menghadirkan suasana nostalgia. Bangunan tua peninggalan Belanda berdiri gagah, seolah menyapa setiap langkah rombongan muda yang tengah belajar mencintai sejarah bangsanya. Tak sedikit siswa yang berhenti sejenak, mengabadikan momen sambil mendengarkan kisah perjuangan arek-arek Suroboyo menjelang Hari Pahlawan 10 November.
Menjelang senja, para siswa berkumpul di Stasiun Kota Surabaya untuk kembali ke Sidoarjo. Wajah-wajah lelah berganti senyum puas. Mereka tak hanya membawa catatan dan foto, tapi juga pengalaman berharga tentang arti perjuangan, kemandirian, dan semangat menuntut ilmu.
Lebih dari sekadar kegiatan luar kelas, kunjungan edukatif ini menjadi ruang pembelajaran nyata. Di hari itu, para siswa belajar dua hal penting: bahwa mimpi besar harus diperjuangkan dengan disiplin, dan sejarah harus dikenang agar masa depan bisa dibangun dengan kesadaran yang utuh.
Penulisnya: Queen Aisyah Arrahmah
