SIDOARJO – Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Wilayah Jawa Timur menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) VI pada Sabtu–Ahad (6–7/12/2025) di Favehotel Sidoarjo. Forum empat tahunan ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus momentum perumusan arah gerak pendidikan SIT di Jawa Timur, menghadirkan ratusan pengurus yayasan, kepala sekolah, dan pemangku kepentingan pendidikan.
Sekitar 600 peserta hadir memenuhi ballroom. Mereka berasal dari Dewan Pakar, Dewan Pembina, Dewan Pengurus Pusat dan Wilayah, perwakilan JSIT kabupaten/kota, serta sejumlah tamu undangan dari lembaga pendidikan seperti Dewan Pendidikan Jatim, PCNU Sidoarjo, PGRI Jawa Timur, dan Dikdasmen Muhammadiyah. Riuhnya suasana membuka rangkaian Muswil yang tahun ini terasa lebih dinamis dan penuh energi kolaboratif.

Ketua JSIT Jawa Timur, Moch Edris Effendi, ST, M.PSDM, dalam sambutan pembukaan mengatakan bahwa Muswil bukan sekadar agenda organisasi, tetapi ruang untuk meneguhkan kontribusi JSIT dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Jawa Timur. Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pengurus yang telah bekerja merampungkan persiapan sejak satu bulan terakhir.
Edris menjelaskan alasan dipilihnya Sidoarjo sebagai tuan rumah. Kabupaten ini merupakan wilayah dengan pertumbuhan sekolah SIT tertinggi di Jawa Timur. Saat ini, JSIT Jatim menaungi 437 sekolah, meningkat dari sebelumnya 354—bertambah 83 sekolah baru dalam empat tahun terakhir. Rinciannya, 231 PAUD, 131 SD, 56 SMP, dan 19 SMA.
Menurutnya, keberadaan sekolah-sekolah SIT telah memberi dampak signifikan bagi masyarakat. Sedikitnya 6.500 guru bersama keluarganya turut terbantu secara ekonomi. Sementara itu, 60 ribu siswa aktif dan sekitar 100 ribu warga telah merasakan manfaat layanan pendidikan SIT.
Edris juga menyampaikan aspirasi agar pemerintah mempertimbangkan kembali moratorium pendirian SMA. Banyak wali murid berharap bisa melanjutkan pendidikan di SMAIT, apalagi capaian akademik SIT terbukti unggul. “Ada SMAIT yang 95 persen siswanya diterima di PTN. Ini membuktikan SIT mampu berkontribusi pada kualitas pendidikan menengah,” ujarnya.
Muswil tahun ini terasa semakin spesial karena diikuti juga oleh JSIT DKI Jakarta, Sulawesi Barat, dan Papua Barat secara daring. Selain sidang utama, Muswil juga menggelar seminar Framework JSIT dan lokakarya ketua yayasan. Ada sekitar 150 peserta yang terlibat langsung dalam persidangan untuk merumuskan rekomendasi, memilih pengurus baru, dan menyusun arah kebijakan organisasi empat tahun ke depan.
Ketua JSIT Indonesia, Ahmad Fikri, M.Pd., NLP, dalam arahannya menegaskan Muswil sebagai momentum tajdid, penyegaran niat, dan peningkatan kualitas program. Menurutnya, keberadaan JSIT bukan semata aktivitas organisasi, tetapi bagian dari dakwah yang menuntut keteladanan. Ia menekankan pentingnya profil dai bagi para guru dan pengurus SIT: sederhana, berkepribadian Islam, dan mampu melahirkan generasi baru yang membawa nilai-nilai kebaikan.
Fikri yang langsung datang dari agenda penanggulangan bencana di Sumatra menyampaikan apresiasi atas soliditas JSIT Jawa Timur. Ia menilai ballroom Muswil yang dipenuhi 600 peserta adalah bukti semangat kolaborasi yang kuat.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Dr. Aries Agung Paewai, S.TP, MM, mengapresiasi peningkatan prestasi siswa SIT yang berhasil menembus berbagai perguruan tinggi negeri. Ia menegaskan bahwa JSIT merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan Jawa Timur.
Aries juga menanggapi aspirasi terkait moratorium SMA. Ia langsung menghubungi Gubernur Jawa Timur untuk membahas kemungkinan pembukaan kembali izin pendirian SMA baru.
“Setelah ini akan kita buka kembali. Begitu respon Ibu Gubernur melalui WA,” katanya.
Dalam paparannya, Aries menekankan pentingnya kesiapan guru dan sekolah dalam menghadapi era digital, AI, serta kebutuhan literasi masa depan. Ia menilai JSIT memiliki potensi menjadi pusat keunggulan (center of excellence) pendidikan Islam terpadu di Jawa Timur.
Rangkaian Muswil semakin semarak dengan penampilan TKIT Insan Kamil, dongeng edukatif dari SDIT Nurul Islam, lantunan banjari dari Grup Mbah Ud Pagerwojo, serta konser dan penggalangan dana kemanusiaan bersama Azzam Haroki.
Muswil VI mengusung tema “Berkolaborasi dan Berinovasi Wujudkan Pendidikan Bermutu di Jawa Timur”. Tema ini diharapkan melahirkan langkah-langkah strategis untuk mempercepat mutu pendidikan, memperkuat sinergi JSIT–Pemerintah Daerah, serta menempatkan JSIT sebagai pionir pendidikan Islam modern di Jawa Timur.
