Setiap tahun, selepas pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul: tumpukan kantong plastik hitam atau bening berserakan di sekitar masjid, halaman sekolah, atau jalan-jalan lingkungan. Ironisnya, sampah yang menumpuk itu berasal dari sebuah ibadah mulia—kurban, yang seharusnya membawa keberkahan, bukan beban tambahan bagi bumi.
Padahal, Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang bagaimana kita meneladani nilai keikhlasan, berbagi, dan kepedulian. Bukan hanya kepada Allah (dimensi vertikal), tapi juga terhadap sesama manusia dan alam semesta (dimensi horizontal). Termasuk soal bagaimana kita mendistribusikan daging kurban dengan cara yang tidak merusak lingkungan.
Islam menempatkan kebersihan dan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kebersihan adalah bagian dari iman.”
(HR. Muslim)
Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan manusia untuk tidak berlebihan:
“…Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Menggunakan plastik sekali pakai secara masif saat pembagian daging kurban—padahal ada alternatif lain yang lebih ramah lingkungan—adalah bentuk pemborosan dan ketidaksadaran ekologis yang sudah seharusnya dikoreksi.
