Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
jsit-jatim
  • Kiprah
    • Profile
    • Program
  • Artikel
  • Profil SIT
  • Download
    • Logo Resmi
    • Foto Resmi Pengurus Pusat
No Result
View All Result
jsit-jatim
No Result
View All Result
Home Keislaman

Tak Mudah Menjadi Wahsyi

by admin
2024/05/21 | 19:56
in Keislaman, Kolom
Reading Time: 3 mins read
0
Ustadz Salim A. Fillah dalam forum “Indonesia Membina” di Museum Pangeran Diponegoro Yogyakarta kemaren (Senin 20 Mei 2024)

Ustadz Salim A. Fillah dalam forum “Indonesia Membina” di Museum Pangeran Diponegoro Yogyakarta kemaren (Senin 20 Mei 2024)

0
SHARES
35
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Related Posts

Guru Kunci Peradaban

Buku Antologi “Goresan Pena Guru Hebat Mutiara Ummat” Terbit, Wujudkan Semangat Menulis Guru

Pesan sang Guru Besar

Kompetisi untuk Mengasah Skill Pendidik Al Uswah Surabaya

(Serial Indonesia Membina)

Oleh: Cahyadi Takariawan

Dalam forum “Indonesia Membina” di Museum Pangeran Diponegoro Yogyakarta kemaren (Senin 20 Mei 2024), Ustadz Salim A. Fillah menjawab pertanyaan seorang peserta terkait “luka pembinaan”. Sebuah luka yang muncul dari forum pembinaan.

Jika dalam dunia parenting dikenal istilah luka pengasuhan, rupanya dalam aktivitas tarbiyah (pembinaan) juga berpeluang muncul luka pembinaan. “Bagaimana kita menyikapi luka pembinaan?” demikian pertanyaan tersebut.

Ustadz Salim A. Fillah menjawab dengan menceritakan peristiwa yang lebih “heroik” di zaman Nabi saw. “Luka pembinaan itu mungkin saja ada. Namun bagaimana kita membandingkan dengan peristiwa yang dialami Wahsyi?” ujar ustadz Salim A. Fillah.

Dalam sirah kita kenal, Wahsyi bin Harb adalah seorang budak dari Ethiopia. Ia dikenal sebagai seorang ahli tombak, yang selalu tepat sasaran. Sangat jarang lemparan tombaknya meleset dari sasaran.

Pada peristiwa perang Uhud, Wahsyi berhasil membunuh paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib, dengan lemparan tombaknya. Ini adalah cara agar dia bisa dibebaskan dari perbudakan Jubair bin Muth`im.

“Engkau akan bebas jika berhasil membunuh Hamzah”, ujar Jubair.

Usai perang Uhud, Wahsyi pun menjadi manusia merdeka. Jubair membebaskan Wahsyi sesuai janjinya.

Ketika Fathu Makkah, Wahsyi melarikan diri ke Thaif untuk mencari tempat aman. Ia merasa terancam karena telah membunuh paman Nabi saw. Wahsyi yakin dirinya akan terlindungi di Thaif.

Kondisi Wahsyi semakin sulit ketika penduduk Thaif mulai masuk Islam sesaat setelah Fathu Makkah. Setelah mendengar masukan beberapa pihak, ia memutuskan pergi ke Madinah untuk meminta ampun kepada Rasulullah dan masuk Islam.

Sesampai di Madinah, Rasulullah saw berkenan mengampuninya dan menerima keislamannya. Namun Rasulullah saw tidak mau melihat wajahnya.

Nabi saw bertanya, “Duduklah dan ceritakan bagaimana engkau membunuh Hamzah.” Wahsyi menceritakan peristiwa pembunuhan Hamzah saat perang Uhud.

Nabi saw berkata, “Celaka engkau, menyingkirlah dariku. Janganlah engkau muncul di hadapan kami.” Hal ini karena kecintaan beliau saw terhadap sang paman. Beliau tidak ingin muncul rasa benci kepada seseorang yang telah masuk Islam dan bertaubat.

Sejak peristiwa itu, Wahsyi menjauh dari Nabi saw. Wahsyi menyatakan, “Aku pun menjauh dari Nabi saw hingga beliau meninggal dunia.”

Apa yang diinginkan oleh seseorang yang bertaubat? Tentu ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu sebelumnya. Ia ingin menjadi seseorang yang mendapat bimbingan langsung dari Nabi saw.

Namun rupanya ia tidak bisa mendapatkan kondisi itu. Ia bahkan harus rela menerima kenyataan bahwa Nabi saw tidak berkenan melihat dirinya.

Tidak mudah menjadi Wahsyi. Seseorang yang pernah memiliki masa lalu kelam, lalu ia telah rela totalitas “hijrah” menuju kebaikan, namun sang Murabbi tidak ingin bertemu dengannya. Sebagai mutarabbi (binaan) tentu ia sangat ingin “bermanja-manja” dengan pembinanya.

Namun apakah itu membuat Wahsyi harus meninggalkan Islam? Ternyata tidak. Ia justru ingin lebih totalitas menebus masa lalunya.

Sejak dirinya memeluk Islam, Wahsyi menunggu kesempatan untuk menebus segala kesalahan di masa lalu. Hingga tiba masa fitnah, munculnya Nabi palsu, Musailamah Al-Kadzab.

Wahsyi berhasil membunuh Musailamah Al-Kadzab pada peristiwa Perang Yamamah.

Dengan tombak itu Wahsyi membunuh orang yang sangat dicintai Nabi saw, Hamzah bin Abdil Muthalib. Dengan tombakitu pula ia membunuh orang yang sangat dibenci Nabi saw, Musailamah Al-Kadzab.

“Sungguh dengan tombak itu aku telah membunuh sebaik-baiknya manusia. Dan aku berharap, semoga Allah mengampuniku, karena dengan tombak itu pula aku telah membunuh seburuk-buruknya manusia,” ungkap Wahsyi bin Harb.

Maka, jika merasakan ada luka pembinaan, hendaknya dijadikan energi untuk berproses menjadi lebih baik lagi. Seperti Wahsyi.

Tags: Indonesia membina

admin

RekomendasiBerita

Kolom

6 Tips Efektif Menanamkan Akhlak Pada Anak Tanpa Membebani

by Janan
10 November 2024
0
272

Menanamkan akhlak pada anak sejak dini tanpa paksaan adalah kunci membentuk perilaku santun sepanjang hayat. Penulis: Janan, S.Pd. (Kepala SDIT...

Read more

Keteteran Jadi Humas? Begini Caranya Menyusun Berita Sekolah dengan AI

12 November 2024
98

Ini Dia 3 Kota Penyumbang Traffic Terbesar ke Website JSIT-Jatim, Surabaya Tertinggi!

15 Juni 2025
130

Gak Perlu Iklan Mahal! Ini Cara Sekolah Islam Terpadu Bisa Dikenal Lewat Google Maps

10 Juli 2025
76

Mengenal Langkah-Langkah Mengirimkan Berita ke Redaksi

23 Mei 2024
241
Next Post

Literasi Digital Indonesia Masih Rendah, Meskipun Peringkat ke-14 Negara Pengguna Internet Terlama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Berita Terkini

Mengukir Makna di Bumi Perkemahan Cibubur

by kontributor jsit
5 Juli 2026
0
63

Refleksi Perjalanan dari MP3N Sako SIT Nasional 2026 Oleh: Sulaikah KurniawatiSekretaris Pinsakoda Sako Pramuka SIT Jawa Timur Perjalanan menuju Bumi...

Read more

PAUDIT Insan Permata Malang Bangun Kepercayaan Diri Anak Lewat Gerakan Ayah Mengantar Anak

120 Murid Baru Disambut Hangat, SDIT Insan Permata Malang Gelar MPLS Ramah Anti Bullying

Empat Siswa SDIT Nurul Islam Klakah Wakili Lumajang di OSN dan FLS3N Jawa Timur 2026

Parade Ekstrakurikuler Semarakkan Masa Ta’aruf MI Terpadu Nurul Amal Parang

Kick Off “ON FIRE” SD Al Uswah: Kolaborasi Guru dan Siswa Siap Cetak ‘Gol’ Puncak Prestasi

KBIT BIC Gelar Sosialisasi MPLS Ramah, Libatkan Orang Tua Bangun Lingkungan Belajar yang Aman

Load More

Popular Posts

Terbaru! Cara Mendapatkan NRG Setelah Lulus PPG dan Jadwal Penerbitannya

by Anjaya Wibawana
2 Juni 2025
1
12.4k

Inilah Kumpulan Falsafah Pendidikan Gontor yang Menginspirasi Pimpinan SIT se-Jatim

by Anjaya Wibawana
8 Februari 2025
0
8.4k

Tanpa Andalkan SPP, Gontor Sejahterakan Guru Lewat Unit Usaha

by admin
8 Februari 2025
0
4.8k

Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia Wilayah Jawa Timur, Pusat penggerak dan pemberdayaan Sekolah Islam Terpadu di Indonesia menuju sekolah efektif dan bermutu

Facebook Youtube Instagram

© 2025 JSIT  Indonesia Wilayah Jawa Timur

  • Dewan Redaksi | Ketentuan Web | Kebijakan Umum
No Result
View All Result
  • Artikel Anggota
  • Berita
  • Cari Anggota
  • Download
  • Grup Anggota Default
  • JSIT Jawa Timur – Meningkatkan Mutu Pendidikan Lewat Berita
  • Keislaman
  • Kiprah
  • Kirim Artikel Baru
  • Login
  • Lupa Kata Sandi
  • Pendaftaran
  • Privacy Policy
  • Profil Saya
  • Profile
  • Program
  • Semua Grup
  • Syarat dan Ketentuan Web
  • Anggota

© 2023 jsit-jatim.com | - Media Digital JSIT Membangun Branding & Menebarkan Inspirasi by jsit-jatim.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In