Ponorogo pagi itu (16/10) terasa tenang, jalanan belum terlalu padat, dan udara masih membawa sisa dingin malam. Di halaman MI Qurota Ayun, rombongan kami dari JSIT Indonesia Jatim Bidang Kelembagaan bersama beberapa orang tua sudah berkumpul. Secangkir kopi, obrolan ringan, dan rencana besar hari itu menyatu dalam satu tujuan: belajar langsung dari salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia, Pondok Modern Darussalam Gontor.
Tepat pukul 09.00, kami disambut dengan hangat oleh Ustad Hafidz sebagai perwakilan pondok. Acara seremonial berlangsung khidmat, dilanjutkan sambutan dari JSIT Indonesia oleh Ustad Edris Efendi. Setelah itu, sesi pengarahan pun dimulai, memberikan gambaran awal tentang bagaimana Gontor membangun kekuatan ekonominya.
Ustaz Hafidz menjelaskan bahwa sebagai lembaga swasta, Gontor harus memiliki fondasi finansial yang kokoh agar tidak bergantung pada pemerintah. Santri dibiasakan mengelola usaha karena biaya pendidikan (SPP) sepenuhnya diprioritaskan untuk kebutuhan mereka, sementara para ustaz didukung oleh unit-unit usaha yang dikelola pondok. Dengan cara ini, kualitas pendidikan tidak bergantung pada campur tangan sponsor atau bantuan luar.
Ia juga memaparkan falsafah ekonomi pesantren yang dipegang Gontor: menjadikan aktivitas ekonomi sebagai bagian dari ibadah, membangun kemandirian dalam kebersamaan, serta mengedepankan barokah dan keberlangsungan dibanding sekadar mengejar profit. Tidak heran jika Gontor kini memiliki sekitar 60 unit usaha yang dikelola oleh ustaz dan santri secara bergiliran.
Untuk menjaga kemandirian, Gontor menerapkan konsep ekonomi proteksi. Pondok menjaga diri dari pengaruh eksternal, mengandalkan sumber dana internal untuk kesejahteraan guru dan pengasuh, serta memastikan seluruh warga pondok merasa memiliki dan terlibat. Bahkan, beberapa kebutuhan pokok diproduksi sendiri untuk membatasi ketergantungan pada produk luar.
Unit-unit usaha tersebut bukan hanya menopang operasional pondok, tetapi juga menjadi sarana pendidikan praktis. Santri terlibat langsung dalam pengelolaan, mendapatkan pengalaman nyata, dan belajar bertanggung jawab melalui sistem yang memiliki pengawasan dan evaluasi rutin. Semua dilakukan secara total untuk membangun karakter dan jiwa enterpreneur.
Menurut Ustaz Hafidz, kekuatan ekonomi Gontor bertumpu pada keikhlasan, keteladanan, disiplin sistem, serta integrasi nilai dalam setiap aktivitas produktif. Nilai-nilai itu menjadi fondasi yang membuat Gontor tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang.

Menuju kemandirian total, Gontor terus memperkuat sistem, meningkatkan kapasitas SDM, mengikuti perkembangan digitalisasi, dan membangun branding yang kuat. Prinsip yang selalu mereka pegang tetap sama:
“Mandiri bukan berarti sendiri, tetapi berdiri di atas kaki sendiri.”
Dari kunjungan singkat itu, kami pulang membawa banyak pelajaran — bahwa kemandirian bukan slogan, melainkan proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan. Dan di Gontor, proses itu menjadi bagian dari jihad pendidikan.
Penulis: Patma Hadi Santoso, S.Si
Kabid Pemberdayaan dan Ortu JSIT Jatim
