Penulis: Sulaikah Kurniawati
Surabaya — Suasana heroik terasa berbeda pagi ini (7/10) di SDIT Al Uswah Surabaya. Tujuh tokoh sejarah hidup, para veteran pejuang kemerdekaan dari LVRI Ranting Sukolilo, hadir menyapa siswa-siswi dengan kisah perjuangan yang membangkitkan semangat kebangsaan.
Kegiatan bertajuk “Veteran Mengajar (VM)” ini merupakan program kerja sama dengan Dinas Sosial Kota Surabaya. Dengan mengusung tema “Jiwa Semangat dan Nilai-Nilai Perjuangan 1945 (JSN 45)”, para veteran berbagi pengalaman tempur mereka dan menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada generasi muda — sesuatu yang kini semakin penting di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi.
Para Pejuang Senja yang Masih Membara
Meski rata-rata telah berusia antara 70 hingga 80 tahun, semangat para veteran masih menyala terang. Mereka menyampaikan kisah perjuangan dengan suara tegas dan mata berbinar. Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh khidmat, para veteran bergantian menceritakan pengalaman mereka di medan perang — mulai dari kisah pengorbanan rekan seperjuangan hingga makna loyalitas terhadap bangsa.
Setiap kisah yang mereka tuturkan bukan hanya menjadi pelajaran sejarah, tetapi juga motivasi tentang ketangguhan, keberanian, dan cinta tanah air.
Siswa Kelas 6 Paling Antusias Menggali Cerita Pejuang
Antusiasme terbesar datang dari siswa kelas 6 SDIT Al Uswah. Dalam sesi tanya jawab, para siswa dengan semangat melontarkan pertanyaan-pertanyaan menarik yang membuat suasana kelas semakin hidup.
Ada yang bertanya dengan polos, “Apakah Bapak pernah terkena peluru?”, sementara yang lain penasaran tentang “strategi perang paling efektif” hingga “arti tanda jabatan di seragam veteran.”
Tujuh pertanyaan dari siswa ini mencerminkan rasa ingin tahu tinggi sekaligus kekaguman mereka terhadap sosok pahlawan sejati yang duduk di hadapan mereka.
Menyalakan Kembali Api Nasionalisme
Kepala Ranting LVRI Sukolilo, Bapak Minto Wahono, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada pihak sekolah atas kesempatan untuk berbagi pengalaman bersejarah ini.
“Kami hadir bukan sekadar untuk bercerita,” ujarnya tegas. “Kami ingin memastikan bahwa Jiwa Semangat dan Nilai-Nilai Perjuangan 1945 (JSN 45) tetap hidup di hati generasi muda. Walaupun usia kami sudah senja, semangat ini tak akan pernah padam ketika bertemu anak-anak bangsa.”
Program Veteran Mengajar ini menjadi pengingat penting bahwa nasionalisme tidak lahir dari teori, tetapi dari keteladanan dan semangat yang diwariskan. SDIT Al Uswah Surabaya pun sukses menghadirkan ruang belajar yang tak hanya mencerdaskan, tapi juga menumbuhkan rasa bangga sebagai anak Indonesia.
