Tak hanya mendengarkan teori, rombongan juga diajak berkeliling melihat langsung fasilitas di Unit Tumbuh Kembang Talenta. Salah satu yang menarik perhatian adalah Sensory Room, tempat peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) dari jenjang KB hingga TK B melakukan berbagai aktivitas stimulasi dengan didampingi Guru Pendamping Khusus (GPK).

Di dalam ruangan ini, anak-anak terlihat aktif bermain lempar bola, merayap di atas rumput sintetis, hingga melompat di trampolin. Tak kalah menarik, ada satu ruangan khusus bernama Snow Ziland, yang didesain dengan peredam suara, lampu warna-warni, serta AC untuk membantu stimulasi perkembangan motorik, kognitif, dan sosial-emosional anak.
Usai observasi, sesi diskusi kembali berlanjut. Ustadzah Finuril Aziza menegaskan bahwa layanan inklusi bukan hanya soal menerima peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga membangun pemahaman inklusif di seluruh elemen sekolah. Dari guru kelas, GPK, hingga tenaga keamanan harus memiliki pemahaman dan hati yang inklusif.
“Menjadi GPK bukan hanya mendampingi, tapi juga harus memiliki kepekaan observasi tinggi. Mulai dari kedatangan hingga kepulangan anak, semua harus dicatat dan dianalisis. Kompetensi dalam memahami tumbuh kembang anak juga sangat penting agar dapat memberikan stimulus yang tepat sesuai kebutuhan,” paparnya.
Setelah sesi diskusi yang berlangsung hingga pukul 12.30 WIB, acara ditutup dengan istirahat, sholat, dan makan siang.

Studi tiru ini menjadi langkah awal bagi SIT Permata Surabaya dalam mempersiapkan layanan inklusi yang optimal. “Kami sangat bersyukur atas ilmu yang diberikan oleh tim Insan Permata Malang. Semua ini menjadi bekal penting bagi kami dalam membangun sekolah inklusi yang benar-benar siap menerima dan mendukung PDBK,” ujar Ustadzah Indah.
Dengan semangat berbagi ilmu dan praktik terbaik, SIT Permata Surabaya optimis mampu menghadirkan pendidikan inklusif yang berkualitas bagi seluruh peserta didiknya.
