Memasuki wilayah Desa Sendang, Tulungagung, tempat Pondok Nurul Fikri (NF) berdiri, rombongan kami langsung disambut pemandangan pegunungan yang meneduhkan. Udara sejuk khas pedesaan menjadi “obat mata” bagi kami yang sehari-hari berkegiatan di kota besar yang panas dan padat.
Di pintu masuk yayasan, seorang ibu menyambut dengan senyum ramah, mempersilakan kami masuk ke kantor yayasan. Suasana hangat sudah terasa sejak langkah pertama.
Tak lama, hadir Ustaz Jiman Suhartana selaku pembina, dan Ustaz Najib selaku Ketua Yayasan NF. Keduanya menyapa dengan penuh kekeluargaan. Obrolan awal kami langsung akrab, terlebih ketika Ustaz Najib bercerita tentang perjalanan beliau di berbagai lembaga amil zakat dan relasi dengan tokoh-tokoh masyarakat yang kebetulan juga kami kenal.
Perwakilan Yayasan Permata Surabaya, Ustaz Sumari, kemudian menyampaikan perkembangan terbaru mengenai SIT Permata, termasuk tantangan mengelola lembaga pendidikan di kota besar—mulai soal lahan hingga dinamika kebutuhan masyarakat urban.
Belajar dari Pondok NF: Entrepreneur Sejak Usia Sekolah
Diskusi berlanjut. Ustaz Najib menyampaikan bahwa suatu saat, insyaAllah, beliau berencana berkunjung ke SIT Permata Surabaya karena sedang mengikuti pelatihan di kota tersebut.
Tujuan utama silaturahmi YPIP Surabaya kali ini adalah belajar tentang pengembangan bisnis yayasan langsung dari praktik lapangan: mulai dari peternakan hingga model pendidikan yang diterapkan Pondok NF sebagai pesantren entrepreneur.
Dalam sesi berbagi, Ustaz Najib menuturkan bahwa Pondok NF lahir pada masa pandemi Covid-19. Saat melihat anak-anak kesulitan belajar dan minim kegiatan yang membentuk kemandirian, para pendiri merasa perlu menghadirkan lembaga pendidikan yang bukan hanya kuat di ilmu agama, tetapi juga membentuk mental usaha.
“Wajah pendidikan kita hari ini belum optimal menghadirkan ilmu yang benar-benar dipraktikkan,” ujar Ustaz Najib.
Awalnya, pendiri mempertimbangkan kurikulum berfokus Al-Qur’an. Namun setelah diskusi panjang, mereka memutuskan mengembangkan kurikulum entrepreneur dengan program berkelanjutan seperti business plan, magang, hingga proyek akhir jenjang.
Nama Ustaz Wahyudi, pendiri awal Pondok NF, sering disebut sebagai sosok yang mengubah mindset para asatiz tentang pentingnya dunia usaha dalam pendidikan. Beliau rutin menghadirkan mentor-mentor bisnis untuk berbagi pengalaman nyata kepada para santri.
Struktur Kurikulum Entrepreneur NF
Para dewan guru kemudian memaparkan detail kurikulum entrepreneur yang diterapkan:
- Mindset
Mengajarkan dasar-dasar Islam dalam usaha, etika bisnis, jual beli halal–haram, hingga pembentukan karakter wirausaha. Dimulai sejak kelas 7. - Skill Set
Melatih kemampuan praktis seperti public speaking, branding, marketing, analisis SWOT, hingga akuntansi. - Tools Set
Santri SMP wajib memiliki lebih dari satu platform media sosial untuk latihan branding. Saat SMA, mereka memilih satu platform untuk proyek usaha akhir.
Penggunaan blog, marketplace, Canva, dan pemanfaatan AI juga menjadi bagian penting pembelajaran.
Ustaz Ikhwan dan Ustazah Irda turut menjelaskan program inspirational sharing, yaitu menghadirkan para pengusaha yang memulai usaha dari nol untuk memotivasi santri.
Ada pula Market Day, Entrepreneur Day (kunjungan ke pasar modern dan tradisional), serta Entrepreneur Trip untuk melihat langsung usaha orang-orang sukses.
Namun, tidak semua mulus. Tantangan tetap ada—misalnya proyek kaos anak muda milik santri putra yang sempat naik turun, atau unit usaha santri putri yang tetap bertahan dengan kreativitasnya.
Penilaian kurikulum entrepreneur dilakukan melalui dua model: ujian praktik dan ujian tulis. Ujian praktik mencakup perkembangan akun media sosial usaha, laporan keuangan, hingga presentasi proyek.
Belajar Al-Qur’an Tetap Jadi Fondasi
Ustaz Jiman menambahkan bahwa pengelolaan pembelajaran Al-Qur’an di NF relatif sejalan dengan SIT Permata Surabaya serta pondok-pondok tahfiz lainnya.
Matematika, IPA, dan Bahasa tetap menjadi kurikulum inti, sementara ilmu syar’i seperti Alfiyah dan Bidayatul Mujtahid menjadi penguat karakter santri.
Penutup Perjalanan: Hikmah dari Seorang Pengusaha
Perjalanan silaturahmi ditutup dengan kunjungan ke seorang pengusaha peternakan ayam dan ikan. Meski telah sukses, ia menyampaikan kisahnya dengan penuh kerendahan hati, ditemani istri shalihah yang aktif dalam kegiatan islami.
Dari beliau kami belajar bahwa dalam urusan dunia tidak perlu berlebihan—karena tujuan akhir tetap akhirat.
Hari itu kami pulang membawa tiga hal: ilmu, inspirasi, dan persaudaraan—rezeki yang tak ternilai.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari–Muslim)
