Suasana Rabu pagi di SDIT Insan Permata Bojonegoro terasa berbeda dari biasanya. Di halaman sekolah, puluhan siswa kelas 5 tampak duduk rapi sambil menatap layar besar dengan antusias. Bukan untuk belajar matematika atau IPA seperti biasa, tetapi untuk menikmati sebuah film pendek berjudul “Es Krim untuk Ayah” — kisah sederhana namun sarat makna yang menjadi bagian dari peluncuran program literasi mingguan sekolah tersebut.
Program ini secara resmi diluncurkan pada pekan pertama November 2025 oleh Kepala SDIT Insan Permata Bojonegoro, Nanin Meipuspa Ranie, S.Pd. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan membaca, berpikir kritis, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter melalui media yang lebih menarik bagi anak-anak.

“Anak-anak zaman sekarang dekat dengan visual. Jadi, kami ingin mengembangkan literasi yang bukan hanya lewat buku, tapi juga lewat tayangan edukatif yang bisa menggugah hati dan pikiran mereka,” ujar Nanin dengan penuh semangat.
Film berdurasi 16 menit itu diputar di layar Interactive Flat Panel (IFP) — fasilitas baru dari bantuan pemerintah yang kini dimanfaatkan maksimal untuk kegiatan belajar interaktif. Dalam film tersebut, siswa diajak menyelami kisah tentang kasih sayang seorang ayah dan anak, dengan pesan moral yang kuat tentang rasa syukur dan cinta keluarga.
Usai menonton, para siswa diberi waktu menulis refleksi singkat di sticky note berwarna-warni. Mereka mencatat pesan yang paling berkesan dari film itu, lalu menempelkannya di papan refleksi kelas. Salah satu siswi spontan berkomentar, “Asyik, seru, tapi juga sedih,” menggambarkan betapa film itu berhasil menyentuh perasaan mereka.

Melalui kegiatan ini, SDIT Insan Permata Bojonegoro ingin menegaskan bahwa literasi tidak hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang memahami pesan dan makna dari berbagai media. “Literasi bukan sekadar huruf di kertas, tapi juga pesan yang tersembunyi di balik layar,” tutur Nanin.
Sekolah berencana menjadikan kegiatan ini sebagai agenda mingguan dengan tema berbeda setiap pekannya — mulai dari literasi sosial, budaya, hingga religi. Harapannya, siswa tidak hanya terampil membaca dan menulis, tetapi juga mampu memaknai kehidupan melalui setiap cerita yang mereka temui.
