Riuh suara talbiyah bersahut-sahutan memenuhi suasana pagi yang cukup panas. Bertempat di lapangan Durenan, Kelompok Kerja Guru PAI Se-Kecamatan Durenan memperingati Hari Santri Nasional dengan menyelenggarakan Manasik Haji untuk seluruh murid SD kelas 5 dan kelas 6.
Alhamdulillah untuk SDIT Mutiara Ummat dapat rombongan kloter 2, yang artinya berangkatnya awal dan selesainya juga lebih duluan dibanding kloter lainnya. Anak-anak sangat antusias dengan rela berpakaian ihram dan berpanas-panas di tengah lapangan.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Bapak Camat Durenan, beliau sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berpesan kepada para peserta untuk mengambil nilai-nilai positif dari kegiatan manasik haji ini.
Selanjutnya prosesi pemberangkatan dari miqat yang bertempat di sisi barat lapangan Durenan, langsung dipandu oleh Bapak Naja, peserta manasik bergerak menuju Arafah di sisi timur lapangan Durenan. Di Arafah disampaikan tentang beberapa hal terkait pelaksanaan wukuf, dan apa saja yang harus dilakukan saat pelaksanaan wukuf tanggal 9 Dzulhijjah. Bagusnya di manasik kali ini, ada contoh atau praktek langsung pelaksanaan khutbah wukuf yang diperankan oleh Bapak Agus Haryono, S.PdI.
Selesai kegiatan wukuf peserta bergerak menuju sisi utara lapangan sebagai gambaran Mina, untuk melaksanakan serangkaian lempar jumroh, diawali dari jumratul Ulaa, kemudian Wustho dan terakhir Aqabah, masing-masing peserta melemparkan kerikil mengenai tugu sebagai miniatur tempat jamaraat.

Dengan keringat yang mulai bercucuran peserta langsung menuju tempat thawaf, yakni Masjidil Haram dimana Ka’bah berada. Tempat ini digambarkan di lapangan futsal persis di tengah-tengah lapangan. Berkeliling Ka’bah dengan terus mengumandangkan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir disertai dengan memanjatkan doa untuk kebaikan dunia dan akhirat.
Selepas thawaf, peserta mendapatkan 1 cup air zam-zam untuk diminum dengan tidak meninggalkan doa.
Kegiatan selanjutnya adalah melaksanakan Sa’i yaitu berlari2 kecil dari Shafa ke Marwa yang digambarkan persis diselatan tempat thawaf.
Lisan tak henti-hentinya berdzikir dan berdoa, sampai tibalah pada rukun terakhir yakni tahallul atau bercukur. Bagi peserta laki-laki, dicukur beberapa helai rambutnya oleh Bapak/Ibu guru pendamping, sementara yang perempuan cukup melihat dan mengetahui tatacaranya.
Sebelum pulang ke rumah atau sekolah masing-masing, masih ada doorprize yang dibagikan oleh panitia kepada peserta yang beruntung.
Kegiatan ini sangat positif dan bermanfaat dari aspek kognitif, motorik dan psiko motorik, serta memberikan ruang yang luas bagi guru dan siswanya untuk mendalami materi ibadah haji dengan praktek bersama. Juga melatih siswa untuk berkata-kata baik sepanjang kegiatan, membasahi lisan dengan dzikrullah dan doa. Yangvtak kalah penting dalam kegiatan ini bisa mewujudkan ukhuwah islamiyah dalam bentuk nyata antar peserta.
Semoga dengan kegiatan ini menumbuhkan rasa kerinduan untuk kelak bisa hadir ke baitullah dan menjalankan serangkaian ibadah berdasarkan syariat dan tatacara yang benar dalam naungan Ridha Allah.
Penulis : Lissunanil Imroati
