Beranda / Nasional / JSIT Jatim Perkuat 452 Sekolah Islam Terpadu lewat Tujuh Prioritas Program

JSIT Jatim Perkuat 452 Sekolah Islam Terpadu lewat Tujuh Prioritas Program

JAKARTA — Bagaimana memastikan organisasi pendidikan tidak sekadar bertambah besar, tetapi juga semakin dirasakan manfaatnya oleh sekolah, guru, dan siswa? Pertanyaan itu menjadi salah satu benang merah paparan Ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Wilayah Jawa Timur, Moch Edris Effendi, dalam forum berbagi praktik baik pengurus JSIT Indonesia, Senin (19/10/2026) malam.

Dalam pertemuan daring melalui Zoom tersebut, lebih dari 150 pengurus JSIT Indonesia tingkat pusat dan wilayah mengikuti diskusi tentang pengembangan organisasi, budaya kerja, dan praktik baik antardaerah.

Edris memaparkan arah strategis JSIT Jatim untuk masa bakti 2025–2029. Organisasi ini menaungi 452 sekolah Islam Terpadu dari jenjang TK hingga SMA, didukung 6.869 guru yang mendidik 60.897 siswa.

Sebarannya meliputi 241 TK, 133 SD, 57 SMP, dan 21 SMA. Di balik angka tersebut terdapat kebutuhan besar untuk memastikan peningkatan mutu sekolah, pengembangan kompetensi guru, penguatan karakter siswa, serta layanan organisasi yang relevan dengan kebutuhan anggota.

Tujuh Prioritas, Satu Arah Perjuangan

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, JSIT Jatim menetapkan tujuh prioritas program kerja.

Pertama, meningkatkan mutu anggota melalui layanan peningkatan kompetensi bagi pengurus JSIT, kepala sekolah, guru, dan yayasan. Kedua, memfasilitasi kegiatan siswa yang mendukung pembentukan karakter, kepemimpinan, dan prestasi.

Ketiga, memperkuat pembinaan keislaman bagi siswa, guru, dan orang tua. Keempat, menambah jumlah sekolah anggota sekaligus memperkuat pembinaan dan pendampingan dengan melibatkan JSIT Daerah.

Prioritas berikutnya mencakup pembenahan keuangan organisasi, penguatan hubungan dengan pemangku kepentingan pemerintah daerah, serta penyiapan regenerasi kepengurusan.

Bagi Edris, program organisasi perlu berangkat dari kebutuhan anggota, bukan sekadar banyaknya agenda yang terlaksana.

Semangat tersebut dirangkum dalam semboyan No School and Teacher Left Behind—tidak ada sekolah dan guru yang tertinggal.

Prinsip ini menempatkan sekolah, guru, dan siswa sebagai penerima manfaat utama dari program JSIT Jatim. Setiap bidang diharapkan bekerja sesuai tugasnya, didukung pembagian sumber daya manusia dan pengaturan jadwal yang memungkinkan program berjalan beriringan.

Mutu, Karakter, dan Prestasi Berjalan Bersama

Tujuh prioritas itu diterjemahkan ke dalam empat bidang utama.

Bidang Penjaminan Standar Mutu menangani standarisasi, implementasi, dan monitoring. Bidang Karakter Guru dan Siswa berfokus pada pembinaan keislaman serta kepemimpinan siswa.

Sementara itu, Bidang Prestasi Guru dan Siswa mendorong peningkatan capaian guru maupun peserta didik. Bidang Pembinaan Orang Tua, Sosial Kemasyarakatan, dan Kemitraan memperkuat keterlibatan orang tua, hubungan kelembagaan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan sekolah tidak cukup hanya bertumpu pada capaian akademik. Mutu kelembagaan, karakter, prestasi, peran keluarga, dan kemitraan juga perlu diperkuat secara bersama.

Daerah Menjadi Penggerak Layanan

Untuk memperluas dampak program, JSIT Jatim menempatkan kepengurusan daerah sebagai bagian penting dari strategi organisasi.

Sebanyak 27 Musyawarah Daerah (Musda) telah terlaksana dan 28 kepengurusan JSIT Daerah telah terbentuk. Penguatan organisasi daerah dilakukan melalui standardisasi program dan laporan, pertemuan rutin, kunjungan organisasi, serta penguatan komunikasi antarpengurus.

Di tingkat daerah, program diarahkan pada pelatihan guru yang belum terfasilitasi, kegiatan siswa terutama jenjang PAUD dan SD kelas bawah, penambahan anggota, penguatan keuangan, serta hubungan dengan pemerintah daerah dan organisasi pendidikan lainnya.

Pendekatan ini membuka peluang agar kebutuhan sekolah dapat lebih dekat dengan pengurus yang mendampingi mereka.

Dalam forum yang sama, Ketua Umum JSIT Indonesia, Ahmad Fikri, M.Pd., NLP, menekankan pentingnya berbagi praktik baik sebagai referensi untuk mengelola organisasi.

“Program kerja adalah komitmen untuk melayani sekolah, guru, dan siswa,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam paparannya.

Ia juga mendorong setiap wilayah untuk memahami program yang dijalankan, mengukur hasilnya, dan menentukan waktu evaluasi. JSIT Indonesia turut merencanakan forum berbagi praktik baik bagi kepala sekolah dari berbagai daerah.

Bagi JSIT Jatim, tantangan ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan jumlah anggota, melainkan memastikan setiap sekolah memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Sebab, ukuran keberhasilan organisasi bukan semata-mata besarnya jaringan, tetapi juga sejauh mana keberadaannya membantu sekolah berkembang, guru bertumbuh, dan siswa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *