SIDOARJO – Mendaki gunung tidak hanya soal mencapai puncak. Hal itu yang coba ditanamkan SMPIT Insan Kamil Sidoarjo kepada 56 siswa kelas 9 melalui kegiatan Backpacker Hiking Gunung Penanggungan, 23–24 September 2026.
Mengusung tema “Climbing Together, Growing Together, Serving Others on Mount Penanggungan”, kegiatan selama dua hari satu malam tersebut dirancang sebagai pembelajaran di alam terbuka. Para siswa belajar tentang kemandirian, ketangguhan, kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab.
Sebanyak 56 siswa dibagi menjadi tujuh kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan delapan siswa dengan pendampingan guru.
Tidak hanya mendaki, siswa juga menjalankan program Service as Action dalam Kurikulum IB. Program tersebut diwujudkan melalui tiga aksi, yakni sisir sampah, plangisasi afirmasi, dan pembuatan konten konservasi di sepanjang jalur pendakian.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa aktivitas di alam juga memiliki konsekuensi terhadap lingkungan dan masyarakat. Mereka tidak hanya menikmati jalur pendakian, tetapi turut mengambil peran dalam menjaga kawasan yang dilewati.
Kegiatan dimulai pukul 10.00 WIB di sekitar base camp Gunung Penanggungan via Tamiajeng. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, PBB, makrifatul medan, dan motivasi filosofi sukses.
Para siswa mendapatkan pengarahan mengenai kondisi medan, tata tertib pendakian, pembagian tugas, serta pentingnya menjaga kekompakan selama perjalanan. Setelah salat berjamaah dan makan siang, seluruh kelompok mulai mendaki menuju Puncak Bayangan pada pukul 14.00 WIB.
Perjalanan menuju Puncak Bayangan memakan waktu sekitar tiga jam. Di setiap pos, siswa melakukan laporan kepada pendamping untuk memantau kondisi kelompok, kesiapan fisik, dan kedisiplinan selama perjalanan.
Medan pendakian menjadi ruang belajar tersendiri. Siswa dituntut menjaga ritme perjalanan, memperhatikan kondisi teman, saling membantu, serta mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan kelompok.
Setibanya di Puncak Bayangan, siswa mendirikan tenda dan menyiapkan kebutuhan untuk bermalam. Setelah beristirahat, mereka kembali bersiap menghadapi agenda berikutnya.
Sekitar pukul 02.00 WIB, seluruh peserta bangun untuk melaksanakan salat Tahajud. Perjalanan kemudian dilanjutkan pukul 03.20 WIB dengan summit attack menuju Puncak Pawitra.
Sekitar pukul 04.30 WIB, seluruh peserta mencapai puncak. Rasa lelah terbayar dengan panorama alam pagi hari. Para siswa mengabadikan momen tersebut melalui foto bersama sebelum mengikuti apel pagi sebagai bagian dari refleksi dan pembentukan kedisiplinan.
Kepala SMPIT Insan Kamil Sidoarjo Fathur menyatakan kebanggaannya atas keberhasilan para siswa mengikuti kegiatan tersebut.
“Melalui kegiatan ini, siswa kami tidak hanya belajar bagaimana mencapai sebuah puncak, tetapi juga memahami bahwa perjalanan menuju tujuan membutuhkan ketangguhan, kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab,” ujarnya.
Ketua Panitia Mustofa mengatakan, integrasi kegiatan dengan program Service as Action diharapkan membuat siswa tidak berhenti pada pengalaman menikmati alam.
“Kegiatan Backpacker kami rancang terintegrasi dengan Service as Action agar siswa tidak hanya menikmati alam, tetapi juga belajar bertanggung jawab menjaganya. Learning outcome dari kegiatan ini harapannya siswa mampu berpikir moral atas dampak tindakannya serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab terhadap diri, kelompok, lingkungan, dan masyarakat,” tambahnya.
Setelah mengikuti apel dan foto bersama di puncak, seluruh peserta bersiap turun pada pukul 07.30 WIB.
Bagi para siswa, pendakian tersebut menjadi pengalaman untuk memahami bahwa perjalanan menuju sebuah tujuan membutuhkan proses. Tantangan medan, kondisi fisik, dan dinamika kelompok menjadi bagian dari pembelajaran yang tidak didapatkan hanya di dalam kelas.
Salah satu siswa, Prada, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pengalaman tentang pentingnya saling membantu dan menjaga lingkungan.
“Perjalanan ini memang melelahkan, tetapi kami belajar saling membantu, menguatkan, dan tidak menyerah. Melalui Service as Action, kami memahami bahwa mendaki bukan sekadar mencapai puncak, tetapi juga menjaga alam, peduli kepada sesama, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan,” ujarnya.
Tema “Climbing Together, Growing Together, Serving Others” pun menjadi gambaran pengalaman siswa selama pendakian. Puncak bukan sekadar tujuan akhir, tetapi bagian dari perjalanan untuk membangun kepedulian, kerja sama, dan tanggung jawab yang dapat dibawa kembali ke kehidupan sehari-hari.







