SURABAYA – Di tengah rutinitas mendidik generasi penerus, guru dan tenaga kependidikan juga membutuhkan ruang untuk merawat kesehatan mental dan menguatkan spiritualitas. SIT Permata Surabaya, yang menaungi unit KBTK, SDIT, dan SMPIT Permata, memfasilitasi kebutuhan tersebut melalui kegiatan Pembinaan Mental Health yang diikuti 93 guru dan pegawai pada Jumat–Sabtu (30–31/10). Agenda rutin tiga bulanan ini menjadi momentum untuk memperdalam tauhid, meluruskan niat dalam bekerja, dan meneguhkan keimanan sebagai landasan menjalankan amanah pendidikan.
Kegiatan pembinaan ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berlangsung pada Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 14.30–17.30 WIB, khusus bagi guru dan karyawan perempuan yang berjumlah 72 orang. Sementara itu, sesi kedua diperuntukkan bagi 21 guru dan pegawai laki-laki, dimulai pada Jumat pukul 18.30 WIB hingga Sabtu pagi, 31 Oktober 2026, pukul 05.30 WIB. Sesi kedua dikemas dengan konsep menginap atau malam bina iman dan takwa.
Mengusung tema “Meneguhkan Tauhid, Mengenal Allah Lebih Dekat”, sesi pembinaan perempuan menghadirkan Ustazah Alif Maziyah, pimpinan Pesantren Ayyatur Rahman, Cerme, Gresik. Dalam menyampaikan materi, beliau mengajak peserta untuk mengikat ilmu melalui tulisan dengan memaparkan materi secara langsung di papan tulis.
Makna Syahadat dan Fondasi Keimanan
Ustazah Alif membuka pemaparan dengan menegaskan peran sentral kalimat tauhid. Kalimat asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah merupakan pintu masuk Islam yang erat kaitannya dengan keimanan. Iman menjadi titik tolak utama setiap perubahan.
“Iman tidak sebatas percaya di level pemahaman dasar. Makna iman yang utuh mencakup tiga dimensi: tashdiqun bil qalbi (meyakini dengan hati), iqrarun bil lisan (mengucapkan dengan lisan), dan ‘amalun bil arkan (mengamalkan dengan perbuatan),” jelas Ustazah Alif.
Beliau juga menekankan pentingnya menjaga syarat-syarat dalam menjemput rezeki karena keimanan menjadi cacat apabila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi.
Narasumber yang memiliki dua putri penghafal 30 juz Al-Qur’an ini, salah satunya sedang menempuh studi S-2 di Selandia Baru melalui beasiswa hafiz, kemudian menguraikan tiga makna mendalam dari kata Ilah.
- Al-Marghub (Tempat Berharap) Berharap kepada manusia hanya membuahkan kekecewaan. Tugas hamba adalah memohon, sementara Allah yang berkehendak. Bersandar kepada manusia mendatangkan kepenatan, tetapi bersandar kepada Allah tidak akan pernah melelahkan.
- Al-Marhub (Yang Ditakuti) Sikap melakoni kebaikan, seperti menjaga kebersihan, seyogianya lahir dari dorongan keimanan kepada Allah, bukan karena takut pada CCTV atau pengawasan sesama manusia. Iman adalah motor penggerak utama.
- Al-Matbu’ (Menyerah Sepenuh Hati) Kepasrahan total, “aku manut Engkau ya Allah”, membuat setiap aspek kehidupan bergerak atas dasar ibadah. Dengan demikian, tugas kebersihan bukan lagi sekadar tanggung jawab petugas kebersihan (office boy), melainkan menjadi kesadaran bersama.
Buah Keimanan dan Meluruskan Niat Kerja
Penerapan tauhid yang benar akan melahirkan keteguhan sikap (istiqamah). Ustazah Alif menjelaskan bahwa istiqamah membawa tiga dampak nyata dalam jiwa.
- Itmi’nan (Ketenangan): Mentalitas tenang dan tidak terburu-buru. Seseorang berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti pikiran, perasaan, dan ucapan, serta merelakan hal-hal di luar kendali, seperti cuaca dan masa depan.
- Asy-Syaja’ah (Keberanian): Berani menyuarakan kebenaran serta siap mengambil risiko atas setiap pilihan hidup.
- At-Tafa’ul (Optimisme): Sikap optimistis yang bersandar kepada Allah sehingga melahirkan karya-karya produktif.
Ustazah Alif juga mengajak peserta merefleksikan kebiasaan sehari-hari. Sudahkah Allah benar-benar menjadi prioritas utama dibandingkan interaksi dengan gawai atau obrolan ghibah? Menurutnya, niat awal bekerja menjadi penentu utama dari setiap lelah yang dikeluarkan.
Beliau menegaskan pesan tersebut melalui firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
Menutup materinya, Ustazah Alif mengingatkan bahwa ayat Al-Qur’an tidak boleh berhenti di lisan saja, tetapi harus berdampak nyata dalam pengamalan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan Pembinaan Mental Health ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh narasumber. Suasana khusyuk menyelimuti ruangan, diiringi derai air mata para peserta yang meresapi setiap bait doa dan muhasabah.
Melalui pembinaan ini, seluruh pendidik dan pegawai SIT Permata Surabaya diharapkan memperoleh penguatan spiritual untuk kembali menjalankan amanah pendidikan dengan hati yang lebih tenang. Landasan tauhid yang kokoh, niat yang lurus, dan keimanan yang terjaga menjadi bekal penting dalam berkhidmat mendidik generasi rabbani.
Penulis: Novita Ratna Andadari | Lembaga: SIT Permata Surabaya







