SIDOARJO – Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Moch Edris Effendi, S.T., M.PSDM bersama Sekretaris Alief Nuryadi, S.S., M.Pd., M.M., CRA menghadiri Rapat Koordinasi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dan Binmas dalam menjaga ketertiban serta kebhinekaan Jawa Timur, Senin (22/12/2025).
Kegiatan yang digelar di Hotel Aston Sidoarjo tersebut diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur. Sebanyak 150 pimpinan organisasi kemasyarakatan dari berbagai latar belakang turut hadir dalam forum tersebut.
Rakor ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat nilai kebhinekaan, toleransi, serta membangun komunikasi yang harmonis antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan. Selain itu, Bakesbangpol Jatim juga merencanakan kegiatan Kenduri Kebhinekaan sebagai bentuk pemberdayaan ormas di Jawa Timur.
Berdasarkan data Bakesbangpol Jatim, tercatat sebanyak 924 organisasi kemasyarakatan terdaftar secara administratif di pemerintah daerah. Dari jumlah tersebut, 458 ormas telah berbadan hukum, dengan total dokumen mencapai sekitar 1.300 berkas. Namun, sebagian besar ormas yang terdata diketahui sudah lama berdiri dan tidak lagi aktif.
Dalam rakor tersebut, hadir sebagai narasumber Kasubdit Binpolmas Ditbinmas Polda Jawa Timur, Hery Dian Wahono, S.Pd., M.Si. Ia memaparkan materi bertema Ketertiban dan Kondusivitas Jawa Timur, yang menekankan pentingnya pendataan ormas, tantangan yang dihadapi, serta kolaborasi dengan kepolisian.
Hery Dian Wahono menyampaikan bahwa menjaga kondusivitas daerah merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, organisasi kemasyarakatan tidak boleh menjadi pemicu ketidaktertiban, melainkan justru menjadi mitra strategis dalam menjaga stabilitas sosial.
Ia juga memperkenalkan dirinya sebagai seorang psikolog dengan pengalaman 25 tahun di kepolisian dan telah menjalani lebih dari 10 penugasan di berbagai daerah, termasuk dalam penanganan konflik sosial dan kerusuhan pascapilkada. Saat ini, ia bertugas di fungsi Binmas yang salah satunya membina organisasi kemasyarakatan.
Sementara itu, Sekretaris JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Alief Nuryadi, menilai kegiatan rakor tersebut sangat penting sebagai ruang saling memahami antarorganisasi.
Menurutnya, memahami dan menerima perbedaan merupakan kunci utama dalam membangun persatuan. Sebaliknya, memaksakan keseragaman justru berpotensi menimbulkan perpecahan.

“Kita perlu menempatkan setiap perbedaan secara proporsional. Perbedaan adalah kodrat yang harus diterima agar dapat saling bersinergi dalam pembangunan masyarakat dan negara,” ujarnya.
Melalui keikutsertaan dalam forum ini, JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam menjaga nilai kebhinekaan, toleransi, serta kondusivitas di tengah masyarakat Jawa Timur.
