Refleksi Perjalanan dari MP3N Sako SIT Nasional 2026
Oleh: Sulaikah Kurniawati
Sekretaris Pinsakoda Sako Pramuka SIT Jawa Timur
Perjalanan menuju Bumi Perkemahan Cibubur bagi saya bukan sekadar menghadiri sebuah agenda nasional. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi ruang pembelajaran yang mengingatkan saya pada ungkapan Mark Twain bahwa bepergian adalah salah satu cara terbaik untuk belajar.
Awalnya, saya berangkat dengan kegelisahan. Banyak amanah di SD Al Uswah Surabaya yang harus saya tinggalkan selama beberapa hari. Namun, kegelisahan itu perlahan berubah menjadi ketenangan. Saya semakin memahami firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 20 yang memerintahkan manusia untuk berjalan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana Allah mengatur segala urusan. Dari perjalanan ini saya belajar bahwa Allah selalu memiliki cara terbaik dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Sinergi dalam Keberagaman
Sebagai Sekretaris Pinsakoda Sako Pramuka SIT Jawa Timur, saya berangkat bersama 12 pembina lainnya pada 30 Juni 2026 untuk mengikuti MP3N Sako SIT Nasional di Cibubur.
Sesampainya di lokasi, saya ditempatkan di Tenda Pleton 5 bersama para pembina dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Gorontalo. Di tenda sederhana itu saya merasakan indahnya ukhuwah. Perbedaan budaya, bahasa, maupun daerah asal seolah melebur menjadi satu keluarga.
Kami saling membantu, berbagi makanan, berdiskusi hingga larut malam, bahkan tertawa bersama melepas penat. Kebersamaan itu menjadi pengalaman berharga yang mengajarkan bahwa persaudaraan akan tumbuh ketika setiap orang saling membuka hati.
Pramuka sebagai Laboratorium Pembentukan Karakter
Selain memperluas jejaring persaudaraan, kegiatan ini juga memperkaya wawasan saya melalui berbagai materi yang disampaikan para narasumber. Ada banyak pelajaran yang saya bawa pulang, namun setidaknya terdapat 13 catatan penting yang menurut saya layak menjadi bahan renungan bersama.
Pertama, membangun karakter membutuhkan proses yang jauh lebih panjang dibandingkan sekadar mengejar capaian akademik.
Kedua, sekolah Islam terpadu perlu terus menguatkan visi besarnya, yaitu tanmiyatul kafaah, nasrul fikroh, dan kasbul ma’isyah.
Ketiga, pembinaan karakter harus berjalan melalui empat pilar utama JSIT, yaitu Bina Pribadi Islam (BPI), kepemimpinan, prestasi, dan Sako Pramuka SIT.
Keempat, tiga fondasi pembinaan yang harus benar-benar berhasil di sekolah Islam terpadu adalah penguatan Al-Qur’an, BPI, dan pendidikan kepramukaan.
Kelima, Sako Pramuka SIT memiliki perjalanan panjang sejak berdiri pada 25 November 2010 sebagai wadah legal kegiatan kepramukaan khas sekolah Islam terpadu.
Keenam, hakikat dakwah adalah menggapai ridha Allah sehingga perjuangan tidak boleh berhenti sebelum mencapai istirahat yang sesungguhnya di akhirat.
Ketujuh, fokus merupakan kunci agar setiap program dan perjuangan menghasilkan dampak nyata.
Kedelapan, alam terbuka harus dioptimalkan sebagai laboratorium pembelajaran karakter dan penanaman nilai-nilai Islam.
Kesembilan, pendidikan kepramukaan perlu dikembalikan pada ruhnya sebagai media pembentukan karakter, bukan sekadar mata pelajaran yang dibebani nilai dan ujian.
Kesepuluh, sejarah menunjukkan bahwa gugus depan Pramuka telah berkembang dari basis instansi menjadi berbasis sekolah sejak dekade 1960-an.
Kesebelas, di era digital, Pramuka harus mampu menjawab harapan orang tua dengan menghadirkan manfaat nyata sekaligus ruang berekspresi bagi peserta didik.
Keduabelas, pembina dituntut adaptif agar tetap relevan dengan karakter Generasi Z dan Generasi Alpha serta mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Dasa Dharma dalam kehidupan masa kini.
Ketigabelas, Sako Pramuka SIT merupakan media dakwah yang sangat strategis. Para pembina diharapkan aktif berkontribusi di kwartir dengan tetap membawa kekhasan nilai-nilai Islam, salah satunya melalui pendekatan tematik dalam SKU.
Menemukan Kembali Ruh Perjuangan
Salah satu momen yang paling membekas bagi saya adalah konser perjuangan yang dibawakan Ar Ruhul Jadid. Lantunan nasyid yang penuh semangat seolah membangunkan kembali idealisme yang mungkin mulai memudar karena rutinitas dan berbagai tantangan di lapangan.
Saya merasa diingatkan kembali bahwa perjuangan mendidik generasi tidak boleh berhenti hanya karena rasa lelah. Justru di situlah Allah sedang menguji keikhlasan para pendidik.
Dalam hati saya berdoa,
“Ya Allah, hamba malu karena sempat merasa lelah. Terima kasih telah mempertemukan hamba dengan begitu banyak orang hebat yang kembali menguatkan langkah perjuangan ini.”
Perjalanan ke Cibubur akhirnya bukan hanya menambah ilmu dan pengalaman, tetapi juga menghidupkan kembali semangat untuk terus mengabdi. Saya pulang dengan energi baru, membawa keyakinan bahwa setiap ruang kelas adalah ladang perjuangan dan setiap peserta didik adalah amanah yang harus dipersiapkan menjadi generasi pembawa kebaikan.
Semoga semangat yang saya bawa dari Cibubur dapat terus menyala di SD Al Uswah Surabaya dan menjadi bagian kecil dari ikhtiar melahirkan generasi beriman, berkarakter, dan siap memimpin peradaban.
