Beranda / Berita Sekolah / Dari Sekolah hingga Rumah, Budaya Religius SDIT Insan Permata Malang Masuk Enam Besar SRC Jatim

Dari Sekolah hingga Rumah, Budaya Religius SDIT Insan Permata Malang Masuk Enam Besar SRC Jatim

MALANG – Pendidikan karakter tidak cukup dibangun melalui pelajaran di kelas. Kebiasaan baik perlu tumbuh dalam keseharian, diteladankan oleh guru, lalu diperkuat melalui pendampingan orang tua di rumah. Prinsip inilah yang dikembangkan SDIT Insan Permata Malang hingga berhasil masuk nominasi enam besar School Religious Culture (SRC) Jawa Timur 2026 jenjang sekolah dasar.

Gambaran budaya religius tersebut terlihat saat tim penilai SRC Jawa Timur melakukan visitasi tahap II di SDIT Insan Permata Malang, Rabu (4/11/2026). Kedatangan tim disambut alunan nasyid ciptaan guru serta pertunjukan seni budaya tradisional oleh para murid.

Sebelumnya, SDIT Insan Permata berhasil meraih peringkat pertama penilaian portofolio tingkat Kota Malang. Capaian itu mengantarkan sekolah tersebut bersaing dengan lima sekolah lainnya dalam penilaian lapangan tingkat provinsi.

SRC merupakan program tahunan Bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Program ini bertujuan membina sekaligus mengukur penerapan nilai-nilai Islam dalam budaya sekolah. Dari sekitar 280 lembaga pendidikan yang mendaftar, sebanyak 32 lembaga dari berbagai jenjang berhasil melaju ke tahap penilaian lapangan.

Guru Menjadi Teladan, Murid Membiasakan Ibadah

Sejak berdiri pada 2004, SDIT Insan Permata Malang menerapkan sistem sekolah sehari penuh atau full day school. Kegiatan belajar yang berlangsung hingga selepas salat Asar dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan positif, termasuk salat Duha serta salat Zuhur dan Asar berjemaah.

Kepala SDIT Insan Permata Malang, Fitria Hidayati, S.Pd., menegaskan bahwa budaya religius bukan sekadar program yang tercantum dalam agenda sekolah. Lebih dari itu, nilai-nilai keislaman diharapkan melekat dalam perilaku sehari-hari seluruh warga sekolah.

“School Religious Culture ini bukan hanya program atau slogan saja, tetapi harapan kami jauh dari itu, yaitu menanamkan nilai-nilai keislaman di kehidupan siswa di keseharian dan semoga juga di seluruh warga sekolah SDIT Insan Permata dan lingkungan sekitar,” ujar Fitria.

Pembiasaan kepada murid juga diimbangi dengan pengembangan kualitas pendidik. Setiap Sabtu, saat murid libur, guru dan karyawan mengikuti program Teachers Day. Kegiatan ini menjadi ruang untuk meningkatkan kompetensi profesional sekaligus memperdalam pemahaman keislaman.

Dengan demikian, guru tidak hanya bertugas mengarahkan murid menjalankan kebiasaan baik, tetapi juga terus belajar dan memperbaiki diri agar dapat menjadi teladan.

Orang Tua Dilibatkan agar Pendidikan Berlanjut di Rumah

Budaya religius di SDIT Insan Permata tidak hanya dibangun di lingkungan sekolah. Orang tua turut dilibatkan melalui program bulanan Smart Parent.

Program yang dikembangkan setelah pandemi COVID-19 ini menghadirkan beragam materi, mulai dari pengasuhan anak, pendampingan belajar matematika berkarakter, hingga kajian kitab Ta’limul Muta’allim.

Keterlibatan keluarga dinilai penting agar pembiasaan yang dilakukan di sekolah tidak terputus ketika anak kembali ke rumah.

“Jadi, kami mengajak orang tua juga mendampingi anak saat di rumah agar pendidikan karakter yang kami kawal ketika ada di sekolah itu selaras dengan ada di rumah,” tambah Fitria.

Penguatan nilai keislaman juga dilakukan melalui pembelajaran di kelas. Al-Qur’an, hadis, dan sejarah Islam diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran, seperti matematika, bahasa, dan ilmu pengetahuan alam. Guru mengaitkan materi dengan nilai-nilai keislaman sesuai tingkat perkembangan murid.

Ketua Yayasan Insan Permata, Prof. Ir. H. Ludfi Djakfar, MSCE., Ph.D., menyampaikan bahwa pengelola yayasan yang berasal dari beragam latar belakang memiliki komitmen yang sama dalam mengembangkan pendidikan akademik dan keagamaan.

“Kami sangat memfokuskan terkait dengan kegiatan-kegiatan keagamaan tanpa melupakan kegiatan akademik,” tegas Ludfi.

Menurutnya, pembiasaan keagamaan harus menjadi bagian dari aktivitas sekolah, bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Harapannya, murid tumbuh sebagai pribadi yang memiliki bekal ilmu sekaligus nilai-nilai Islam untuk berkontribusi di tengah masyarakat.

Prestasi Bukan Tujuan Akhir

Visitasi tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Achmad Shampton, S.HI., M.Ag., bersama perwakilan kelurahan setempat. Ia mengapresiasi upaya sekolah dalam membangun budaya religius dengan melibatkan keluarga.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan agama semestinya terlihat dari perubahan perilaku, tanggung jawab, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap dari penilaian ini nanti SDIT Insan Permata ini bisa menjadi contoh untuk Jawa Timur, bahkan Indonesia, dalam pendidikan karakter keislaman anak-anak kita,” ungkapnya.

Achmad Shampton, yang akrab disapa Gus Shampton, juga mengingatkan agar sekolah tidak berhenti pada kebanggaan karena berhasil masuk nominasi enam besar. Jika kelak meraih juara, penghargaan tersebut justru harus menjadi pemantik perubahan yang lebih besar.

“Kita tentu berharap kalau nanti SDIT Insan Permata jadi juara, jangan berhenti di penobatan sebagai yang terbaik. Jangan sampai prestasi ini malah menjadi ‘berhala’ baru! Prestasi itu harus jadi spirit untuk bertransformasi. Negeri ini sedang darurat contoh moral. Kita butuh lahirnya calon-calon pemimpin baru dari sekolah ini yang punya kedalaman nilai, bukan sekadar pandai berakting saleh,” tandasnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan budaya religius bukan semata-mata penghargaan, melainkan karakter yang benar-benar tumbuh dalam diri murid.

Visitasi Jadi Momentum Evaluasi

Dalam visitasi tahap II, tim penilai melakukan verifikasi dokumen portofolio, pengamatan fasilitas pendukung, serta dialog dengan kepala sekolah, guru, orang tua, dan murid. Rangkaian tersebut bertujuan memastikan kesesuaian antara program yang dilaporkan dengan pelaksanaannya di lingkungan sekolah.

Penilaian SRC Jawa Timur 2026 terdiri atas tiga komponen, yakni portofolio dengan bobot 35 persen, visitasi lapangan 45 persen, dan presentasi publik 20 persen. Setelah seluruh sekolah nominasi jenjang SD menyelesaikan visitasi, peserta dengan nilai tertinggi akan melanjutkan ke tahap presentasi publik untuk menentukan juara pertama, kedua, dan ketiga.

Perwakilan tim penilai SRC Jawa Timur, Safitri, S.Ag., M.A., berharap ajang ini menjadi dorongan bagi sekolah untuk terus menjaga budaya religius sekaligus menjadi contoh dalam pendidikan karakter Islam.

“Kami berharap ajang ini menjadi wasilah bersama untuk mencetak generasi penerus yang kuat imannya, dalam ilmunya, dan tinggi akhlaknya. Semoga SDIT Insan Permata mendapatkan hasil terbaik dan terus membawa keberkahan bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Bagi SDIT Insan Permata Malang, visitasi bukanlah akhir dari proses pembudayaan nilai-nilai Islam. Justru, tantangan sesungguhnya adalah menjaga agar kebiasaan baik terus hidup setelah tim penilai meninggalkan sekolah.

Guru terus belajar dan memberi teladan, murid membiasakan ibadah, sementara orang tua mengambil peran dalam pendampingan di rumah. Kolaborasi inilah yang diharapkan melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

Penulis: M. Noor Hidayat | Sekolah: SDIT Insan Permata Malang

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *