LAMONGAN — Pesan tentang pentingnya menjaga lisan disampaikan Ustadz Febri Annuari dalam apel Senin di halaman SDIT Alfurqan Lamongan, Senin (5/10/2026). Di hadapan siswa mulai jenjang PAUD hingga SD, ia mengajak para siswa membiasakan diri berkata baik dan menghindari perkataan yang tidak bermanfaat.
Apel pagi tersebut diisi dengan amanat mendalam yang disampaikan oleh Ustadz Febri Annuari. Mengusung tema moral dan etika komunikasi, beliau mengawali pesannya dengan sebuah prinsip agung: “Berkata baik atau diam.”
Dalam amanatnya, Ustadz Febri menyampaikan analogi menarik mengenai karakter dua jenis serangga, yakni lalat dan lebah, untuk menggambarkan perilaku manusia sehari-hari. Lalat digambarkan sebagai makhluk yang tidak memiliki wibawa; ia menyukai tempat-tempat yang kotor, memakan hal-hal yang kotor, dan pada akhirnya hanya menghasilkan sesuatu yang kotor pula.
Beliau juga mengaitkan karakteristik tersebut dengan tuntunan Rasulullah SAW, merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW: “Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya, karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat.” (HR. Bukhari). Melalui hadis ini, Rasulullah SAW mengajarkan hikmah di balik tabiat lalat sekaligus menunjukkan bagaimana Islam menjunjung tinggi kebersihan dan kewaspadaan.
Sebagai perbandingan, Ustadz Febri menghadirkan sosok lebah yang mulia. Berbeda dengan lalat, lebah hanya menghisap nektar dari bunga-bunga yang harum dan bersih, lalu mengolahnya menjadi madu yang penuh manfaat bagi kesehatan manusia.
Dari analogi kontras tersebut, beliau menarik garis lurus kepada kehidupan sehari-hari para siswa. Apa yang keluar dari lisan dan ucapan merupakan cerminan dari apa yang dikonsumsi setiap hari—mulai dari apa yang ditonton di layar ponsel hingga cara berkomunikasi dengan sesama. Jika yang dimasukkan adalah hal-hal buruk atau sia-sia, lisan pun akan terbiasa memuntahkan perkataan yang tidak baik.
Menutup amanat apel pagi tersebut, sebuah pertanyaan reflektif dilontarkan kepada seluruh peserta apel sebagai tantangan hijrah harian, “Bisakah mulai dari hari ini tidak berkata kotor?”
M. Bakhrus Salam







